Rumah AI Indonesia Targetkan 300 Paten, Siapkan Pendanaan USD 15 Juta
- 28 Agt 2026 07:50 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Surabaya - Rumah AI Indonesia menargetkan pendampingan dan pengajuan hingga 300 paten karya talenta Indonesia pada tahun pertama. Program di bawah PT Indonesia Kecerdasan Artifisial Network (i-KAN) itu juga menyiapkan pengembangan pendanaan dari 1 juta dolar AS menjadi 15 juta dolar AS dalam kurun waktu 36 bulan.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dan kekayaan intelektual atau Intellectual Property (IP) di Indonesia. Rumah AI Indonesia ingin mendorong Indonesia agar tidak hanya menjadi pasar dan pengguna teknologi AI global, tetapi juga mampu menciptakan serta memiliki teknologi sendiri.
Pada tahap awal, i-KAN memperoleh dukungan pendanaan sebesar 1 juta dolar AS. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung berbagai program, mulai dari penelitian, pengembangan teknologi, pilot project, penguatan ekosistem IP, hingga kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Dalam 36 bulan ke depan, i-KAN menargetkan pendanaan dapat berkembang hingga 15 juta dolar AS melalui kerja sama dengan mitra nasional dan internasional. Salah satu rencana strategis yang tengah disiapkan adalah peluang kerja sama pendanaan dengan perusahaan terbuka yang tercatat di bursa Hong Kong.
Ketua Asosiasi Dosen Integrator Desa (ADIDES), Dr. Arman Hakim Nasution, MEng, mengatakan kerja sama tersebut masih dalam proses dan menunggu persetujuan dari pihak-pihak terkait. Penandatanganan kerja sama ditargetkan dapat berlangsung pada September 2026.
Selain pendanaan, salah satu fokus utama Rumah AI Indonesia adalah mendorong lebih banyak inovasi karya anak bangsa memperoleh perlindungan kekayaan intelektual. Pada tahun pertama, i-KAN menargetkan dapat mendampingi dan membantu pengajuan antara 150 hingga 300 paten dari berbagai inovasi yang dikembangkan inventor, akademisi, peneliti, developer, maupun startup Indonesia.
“Indonesia masih tertinggal dalam Intellectual Property. Kita memiliki universitas, dosen, mahasiswa, developer, engineer dan inventor dalam jumlah yang sangat besar. Potensi tersebut harus kita ubah menjadi IP dan teknologi yang memiliki nilai ekonomi,” kata Arman.
Menurutnya, potensi sumber daya manusia Indonesia di bidang teknologi harus didorong agar tidak berhenti sebagai hasil penelitian, prototipe, maupun tugas akhir. Inovasi tersebut diharapkan dapat memperoleh perlindungan IP, dikembangkan menjadi produk, memperoleh investasi, dan memiliki peluang memasuki pasar global.
Rumah AI Indonesia juga menargetkan pembentukan 50 Pusat Unggulan AI dan Intellectual Property di berbagai perguruan tinggi. Melalui kerja sama dengan kampus dan jaringan ADIDES, pengembangan AI diharapkan tidak hanya terpusat di kota-kota besar, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat di daerah hingga pedesaan.
“AI tidak boleh hanya dinikmati oleh masyarakat di kota-kota besar. Teknologi harus dapat memberikan manfaat nyata sampai ke desa,” ujar Arman.
Rumah AI Indonesia melalui i-KAN akan dipimpin Agustino Wibisono, ST, sebagai pusat kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi, inventor, developer, startup, industri, investor, diaspora, dan jaringan teknologi internasional. “Kita ingin mengatakan kepada developer, inventor, mahasiswa, dosen, peneliti dan startup Indonesia, Anda tidak perlu berjalan sendiri. Bawa karya Anda ke Rumah AI Indonesia. Kita bangun, lindungi dan kembangkan bersama,” kata Agustino.
Melalui target 300 paten dan pengembangan pendanaan hingga 15 juta dolar AS, Rumah AI Indonesia membawa misi mendorong Indonesia menjadi salah satu pencipta dan pemilik teknologi AI. Pengembangan ekosistem tersebut diharapkan dapat menjangkau kampus, industri, daerah, hingga pedesaan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....