Dari Sampah Jadi Pelet Ikan, Mahasiswa Undip Berdayakan Warga Klidang Lor

  • 20 Agt 2026 21:29 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Batang - Mahasiswa KKN Reguler Tim II Undip, Muchammad Nur Hidayatullah dari Prodi Oseanografi FPIK, melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Desa Klidang Lor, Kabupaten Batang, berupa penebaran bibit lele dan pembuatan pelet ikan dari sampah organik. Kegiatan ini menyasar kepada TP-PKK Desa Klidang Lor sebagai kelompok sasaran utama pada Sabtu 8 Agustus 2026.

Program dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap permasalahan sampah organik sekaligus memberikan alternatif pemanfaatan sampah yang memiliki nilai guna. “Sampah organik seperti sisa sayuran, daun, dan kulit buah masih sering dibuang begitu saja sehingga dapat menumpuk dan menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan apabila tidak dikelola dengan baik,” kata Muchammad Nur Hidayatullah melalui keterangan tertulis Kamis 20 Agustus 2026.

Melalui kegiatan ini, TP-PKK diberikan pemahaman dan praktik mengenai cara sederhana mengolah sampah organik menjadi bahan dasar pelet ikan. Kegiatan diawali dengan persiapan kolam ikan sebagai media pemeliharaan lele.

“Setelah kolam siap, sebanyak 150 bibit lele berukuran 5–6 cm ditebar ke dalam kolam. Penebaran bibit tersebut menjadi bagian dari upaya pemanfaatan hasil pengolahan sampah organik untuk mendukung kegiatan budidaya ikan di lingkungan Desa Klidang Lor,” jelasnya.

Selanjutnya, dilakukan praktik pembuatan pelet ikan dengan memanfaatkan berbagai sampah organik yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar, seperti sisa daun bayam, sisa daun sawi, kulit pepaya, dan sisa sayuran lainnya. Bahan-bahan tersebut dikumpulkan dan dipersiapkan untuk melalui proses fermentasi.

Dalam proses fermentasi kata Hidayatullah, digunakan larutan EM4 sebagai media pengurai bahan organik. Larutan EM4 dimasukkan ke dalam botol berukuran 600 ml dan dicampurkan dengan air. Sampah organik kemudian dimasukkan ke dalam galon bekas dan ditambahkan larutan EM4 yang telah disiapkan.

“Campuran tersebut didiamkan selama 3–4 hari hingga proses fermentasi selesai. Setelah proses fermentasi, bahan organik kemudian dicampurkan dengan tepung ikan dan bekatul dengan perbandingan 2:1. Campuran tersebut selanjutnya digiling hingga membentuk butiran pelet yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif pakan untuk ikan,” ungkapnya.

Bagi masyarakat, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi keterampilan yang dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan rumah. Sampah organik dari aktivitas rumah tangga dapat dipilah sejak awal dan dimanfaatkan sebagai bahan untuk pembuatan pelet sehingga pengelolaan sampah tidak hanya berorientasi pada pembuangan, tetapi juga pada pemanfaatan dan pengolahan kembali.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....