Kurangi Sampah Anorganik, KKN Undip Ajarkan Pembuatan Gantungan Kunci Ala Jepang
- 20 Agt 2026 05:04 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Pemalang — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) mengajak siswa SDN 3 Sidokare mengenal pentingnya pengelolaan sampah sekaligus memahami nilai ekonomi dari barang bekas melalui penerapan budaya Jepang Mottainai. Upaya ini untuk mengurangi sampah anorganik, khususnya botol plastik di lingkungan sekitar SDN 3 Sidokare, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja Multidisiplin 2 yang melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi, termasuk Enjelika Stefani br Sembiring, mahasiswa Program Studi Akuntansi Perpajakan Sekolah Vokasi Undip. Enjelika mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan di SDN 3 Sidokare tersebut dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya botol plastik di sejumlah titik di Desa Sidokare.
"Kondisi tersebut mendorong mahasiswa KKN memberikan edukasi kepada siswa mengenai pentingnya memilah, menggunakan kembali, dan mengelola sampah agar tidak langsung menjadi limbah. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang memperkenalkan filosofi Mottainai, yaitu sikap menghargai barang dan tidak menyia-nyiakan sesuatu yang masih memiliki nilai guna, seperti mengubahnya jadi gantungan kunci.
Sementara itu, mahasiswa Akuntansi Perpajakan memberikan pengenalan sederhana mengenai nilai ekonomi barang bekas dengan mengajak siswa memahami bahwa barang yang sudah tidak terpakai masih dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi benda bernilai guna. Materi disampaikan secara interaktif menggunakan media PowerPoint (PPT) agar lebih mudah dipahami oleh siswa.
Menurut Enjelika, selain memperoleh penjelasan mengenai pemilahan dan pemanfaatan sampah, siswa juga diajak mengenali perbedaan antara barang yang dianggap tidak terpakai dengan barang yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Sebagai bentuk penerapan langsung, siswa mengikuti praktik pembuatan gantungan kunci (keychain) dari tutup botol plastik bekas.
"Melalui kegiatan tersebut, siswa belajar mengubah limbah sederhana menjadi karya yang dapat digunakan kembali. Sekaligus mengenal bahwa kreativitas dalam mengolah barang bekas dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai guna," ungkapnya.
Pihaknya menuturkan, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mengenalkan nilai ekonomi secara sederhana kepada siswa sejak dini. Barang bekas yang sebelumnya dianggap tidak memiliki manfaat dapat diolah menjadi produk yang berpotensi memiliki nilai guna bahkan nilai jual.
Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap, siswa SDN 3 Sidokare tidak hanya memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mampu melihat sampah dari sudut pandang yang berbeda. Pengenalan budaya Mottainai diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan untuk tidak menyia-nyiakan barang sekaligus membangun pola pikir kreatif dan ekonomis sejak dini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....