Gandeng Perguruan Tinggi, Desa Srinanti Petakan Potensi Wisata Mangrove
- 19 Agt 2026 11:00 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Potensi wisata mangrove di Desa Srinanti, Kecamatan Sei Menggaris, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mulai dipetakan melalui kolaborasi sejumlah perguruan tinggi. Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Semarang (USM) mendorong pengembangan potensi tersebut menjadi ekowisata berbasis masyarakat.
Kegiatan yang dilaksanakan pada awal Agustus 2026 itu merupakan bagian lanjutan dari program Spacemangrove, akronim dari Spatial and Community-Based Ecotourism Mangrove. Program tersebut telah dijajaki sejak Januari 2026.
Kolaborasi tersebut melibatkan dosen dan mahasiswa dari tiga perguruan tinggi. ITB diwakili Dr. Prima Roza dan Miga M. Julian, MT, Universitas Brawijaya diwakili Esa Fajar Hidayat, S.Kel., M.Si., sedangkan USM diwakili Muchammad Satrio Wibowo, S.Kel., M.Sc.
Ketua tim ITB, Dr. Prima Roza, mengatakan kegiatan kali ini diarahkan pada penyusunan konsep pengembangan ekowisata. Salah satunya melalui penyusunan katalog wisata sekaligus sosialisasi potensi wisata kepada masyarakat Desa Srinanti.
“Luasnya mencapai 4.985 hektare menjadikan hutan mangrove di Desa Srinanti sangat potensial. Kawasan mangrove di sana tidak hanya dipandang dari aspek pelestarian lingkungan, tetapi juga sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui pengelolaan wisata yang berkelanjutan,” tutur Prima melalui keterangan tertulis, Rabu, 19 Agustus 2026.
Pemetaan potensi wisata diawali dengan menghimpun informasi mengenai Desa Srinanti melalui Desanesha. Platform milik ITB tersebut digunakan untuk menampung dan mengidentifikasi berbagai permasalahan desa di sejumlah wilayah Indonesia.
Informasi awal tersebut kemudian diperdalam melalui observasi lapangan dan diskusi bersama berbagai unsur masyarakat desa. Tim melibatkan pemerintah desa, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), kelompok nelayan, serta masyarakat dalam mengidentifikasi berbagai potensi yang dapat dikembangkan.
Dalam prosesnya, tim menggunakan pendekatan Participatory Geographic Information System (GIS). Pendekatan tersebut menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses perencanaan dan pemetaan potensi wisata desa.
Kepala Desa Srinanti, Rusmini Hakim, mengatakan masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai sumber informasi. Warga juga dilibatkan untuk memberikan masukan serta memastikan informasi yang diperoleh selama proses survei sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Jadi masyarakat tidak hanya berperan sebagai narasumber, tetapi juga sebagai mitra yang turut mengidentifikasi potensi, memberikan masukan, dan memvalidasi berbagai informasi yang diperoleh selama survei,” jelas Rusmini.
Dari proses kolaboratif tersebut, tim bersama masyarakat kemudian menyepakati konsep wisata yang tidak hanya mengandalkan kawasan mangrove. Paket wisata dirancang dengan menggabungkan kegiatan susur mangrove dengan potensi lain yang dimiliki Desa Srinanti.
Potensi tersebut mencakup sektor pertanian, kebudayaan, hingga cerita mengenai sejarah transmigrasi di Desa Srinanti. Penggabungan berbagai potensi tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman wisata yang lebih beragam sekaligus memperkenalkan karakter desa kepada pengunjung.
Pengembangan ekowisata juga diarahkan agar masyarakat menjadi bagian utama dalam pengelolaannya. Dengan pendekatan tersebut, potensi mangrove diharapkan tidak hanya memberikan manfaat dari sisi pelestarian lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga.
Melalui program Spacemangrove, kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat diharapkan dapat menjadi dasar bagi Desa Srinanti dalam mengembangkan konsep desa wisata berbasis mangrove secara berkelanjutan. Mangrove diharapkan tidak hanya menjadi identitas ekologis desa, tetapi juga menjadi bagian dari penggerak perekonomian masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....