Inisiasi Pakan Ternak Mandiri, UPGRIS Luncurkan Program Hilirisasi Mesin Pelet

  • 18 Agt 2026 14:27 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Ketergantungan peternakan rakyat terhadap pakan pabrikan yang mahal kini mulai menemukan solusi konkret. Melalui pendanaan penuh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek), Tim Pengabdian Masyarakat Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) meluncurkan program hilirisasi teknologi mesin pelet pakan mandiri berbasis limbah sayur di Desa Morobongo, Kecamatan Jumo, Kabupaten Temanggung.

Inovasi ini difokuskan penuh untuk mendongkrak produktivitas sektor peternakan ayam lokal. Hal ini diharapkan dapat memotong mata rantai biaya produksi yang selama ini mencekik para peternak ayam.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UPGRIS, Aan Burhanudin, menjelaskan kunci dari program kemandirian ini terletak pada penerapan teknologi pengolahan pakan. Program ini dinilai presisi dan adaptif terhadap kebutuhan ternak ayam.

"Dengan adanya Alat Mesin Pelet menggunakan teknologi 3 grinding dan variasi ukuran ini, peternak ayam akan sangat dimudahkan dalam memberikan pakan yang sesuai dengan fase umur ayam, mulai dari fase starter, grower, hingga finisher," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 18 Agustus 2026.

Menurutnya, teknologi ini terbukti menjadi pendongkrak ekonomi yang nyata dengan pemanfaatan limbah sayur lokal. Kelompok mitra kini mampu memproduksi pakan berkualitas secara mandiri, mengurangi biaya pakan hingga 30-40 persen.

Teknologi ini sekaligus menaikkan margin keuntungan peternak ayam sebesar 15-25 persen. “Program pengabdian ini mengintegrasikan pemanfaatan teknologi mesin dengan optimalisasi formula nutrisi pakan serta modernisasi manajemen bisnis peternakan ayam,” katanya.

Anggota Tim UPGRIS, Rizky Muliani Dwi Ujianti, yang fokus pada bidang nutrisi ternak, menekankan pentingnya standarisasi kandungan pakan. "Kami menambahkan formula khusus pada racikan ransum berbasis limbah sayur ini, tujuannya agar pemenuhan gizi harian ayam tetap terpenuhi secara optimal, sehingga ayam mempunyai bobot maksimal dan masa panen menjadi lebih efisien," ucapnya.

Tidak hanya berhenti pada hulu produksi, hilirisasi produk peternakan ayam Desa Morobongo juga didorong penuh ke arah digital. Anggota tim lainnya, Muchammad Malik, mengambil peran dalam merombak manajemen pemasaran yang semula tradisional menjadi berbasis teknologi digital.

"Kami mendampingi para peternak secara intensif dalam pemanfaatan e-commerce dan penerapan strategi digital marketing. Ini adalah langkah strategis untuk membuka akses pasar yang jauh lebih luas, langsung ke konsumen dan mitra bisnis tanpa melalui banyak perantara," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....