Mahasiswa Undip Latih Petani, Sulap Limbah Jagung Jadi Pakan Alternatif

  • 11 Agt 2026 00:15 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Batang - Limbah jagung pascapanen maupun tanaman yang terpaksa gagal panen akibat penyakit, kerap kali hanya dibuang atau dibiarkan menumpuk di ladang oleh para petani. Merespons hal ini, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Diponegoro (Undip) menggelar pelatihan inovasi pakan bagi kelompok tani dan peternak di Desa Kluwih, Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang.

Hal itu karena limbah jika dikelola dengan teknik yang tepat, maka akan menyimpan potensi besar untuk disulap menjadi pakan ternak alternatif bernilai gizi tinggi. Pelatihan yang dipusatkan di kediaman Sarjono, diprakarsai Faris Ananta Fauzan, mahasiswa Program Studi Peternakan Undip.

Edukasi ini merupakan wujud nyata program multidisiplin KKN yang selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Terutama pada pencapaian SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).

Dalam pemaparannya, Faris menjelaskan metode ini dikenal dengan istilah silase, yakni pengawetan hijauan pakan ternak melalui fermentasi anaerobik (tanpa udara) dengan bantuan bakteri asam laktat. Proses fermentasi ini mengubah karbohidrat yang larut menjadi asam laktat, sehingga memicu penurunan pH hingga kisaran 3,8–4,2.

"Kondisi asam inilah yang secara efektif menghambat mikroba pembusuk. Hasilnya, kandungan nutrisi utama seperti protein, energi, dan serat tetap terjaga utuh. Silase dapat disimpan dalam waktu lama tanpa kehilangan kualitas gizi, serta proses absorpsi dan degradasinya di dalam rumen ternak ruminansia sangat aman," jelasnya, Senin 10 Agustus 2026.

Antusiasme warga Desa Kluwih terlihat jelas saat sesi demonstrasi berlangsung. Interaksi berjalan dua arah dan sangat aplikatif. Beberapa peternak langsung melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar efisiensi pembuatan pakan tersebut di lapangan.

Tidak hanya persoalan takaran, warga juga mengonfirmasi hal-hal teknis terkait manajemen pemberian pakan. Warga menanyakan apakah pakan hasil fermentasi ini memerlukan masa adaptasi saat pertama kali diberikan kepada ternak.

Serta apakah wadah silase yang sudah terlanjur dibuka harus segera dihabiskan pada hari itu juga atau bisa disimpan kembali. Menanggapi hal tersebut, Faris memberikan panduan praktis dan solusi teknis yang mudah dipahami warga.

Ia menjelaskan strategi pengenalan pakan asam ke ternak yang belum terbiasa, serta teknik menutup kembali wadah penyimpan (silo) agar tetap kedap udara sehingga sisa pakan di dalamnya tidak membusuk.

Inovasi ini dinilai memberikan keuntungan ganda bagi masyarakat Desa Kluwih. Peternak mendapatkan stok pakan alternatif untuk mengantisipasi krisis pakan di musim kering, sementara kebersihan lahan pertanian tetap terjaga guna memutus siklus penyebaran penyakit pada tanaman.

Sinergi antara mahasiswa dan warga desa ini diharapkan mampu menginspirasi wilayah lain di Kabupaten Batang untuk menerapkan prinsip pertanian terpadu yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....