FH Unnes dan BPBD Gelar SEKONTAN, Mantapkan Mitigasi Longsor di Desa Keji

  • 10 Agt 2026 02:14 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kabupaten Semarang — Mengantisipasi potensi bencana tanah longsor di Desa Keji, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, kolaborasi strategis lintas sektor terus digencarkan. Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) Penal Study Club (PSC) Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang (FH Unnes) resmi membuka rangkaian Sekolah Konservasi dan Tangguh Bencana (SEKONTAN) dengan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang.

Kelas perdana yang diikuti sekitar 80 orang yang terdiri dari elemen-elemen krusial penggerak desa, yakni perangkat desa, anggota Perlindungan Masyarakat (Linmas), dan para pemuda dari Karang Taruna ini diselenggarakan di Ruang PKK Desa Keji, baru-baru ini. Kehadiran program SEKONTAN mendapat respons positif dari otoritas desa setempat.

Keterlibatan tiga elemen ini diproyeksikan agar mereka kelak menjadi tonggak utama penyebaran informasi mitigasi bencana kepada warga yang lebih luas.

Sebagai narasumber ahli, panitia menghadirkan Penata Penanggulangan Bencana dari BPBD Kabupaten Semarang, Muhammad Farkhan SE.

Dalam kelas pengenalan ini, Farkhan memfokuskan materinya pada prosedur keselamatan esensial sebelum dan saat bencana terjadi. Langkah paling awal dari mitigasi adalah kesiapsiagaan diri sendiri.

"Warga harus tahu barang-barang penting apa saja yang wajib segera dibawa dalam tas siaga darurat, serta bagaimana rute dan cara menyelamatkan diri yang benar saat ada tanda-tanda longsor. Pemahaman dasar ini sangat krusial," urai Farkhan kepada para peserta.

Meskipun cetak biru program SEKONTAN mencakup pemanfaatan teknologi kebencanaan, kata dia, materi pengenalan sistem atau instrumen teknologi belum dibahas pada kelas pertama ini. Fokus utama saat ini adalah membangun mindset tanggap darurat yang kuat di tengah masyarakat.

Kepala Desa Keji, Siswanto, yang turut membuka acara, menegaskan pentingnya edukasi berkesinambungan bagi warga di kawasan rawan bencana.

"Semoga dengan adanya kelas mitigasi seperti ini dapat benar-benar membantu warga dalam merespons ancaman secara cepat dan tepat, khususnya untuk mitigasi bencana tanah longsor yang berpotensi terjadi di Desa Keji," tutur Siswanto.

Melalui kolaborasi antara akademisi Unnes, pakar dari BPBD, dan pemerintah desa, kesadaran dan kesiapan warga Desa Keji diyakini akan semakin matang dalam menghadapi berbagai skenario kebencanaan di masa depan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....