KKN Undip Susun Masterplan Desa Campuranom hingga 2034
- 08 Agt 2026 05:22 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Temanggung - Desa Campuranom, Kecamatan Bansari, Kabupaten Temanggung, memiliki potensi pertanian yang didukung oleh kesuburan tanah, keindahan bentang alam, dan aktivitas masyarakat agraris. Namun, pengembangan potensi tersebut masih menghadapi tantangan berupa pengendalian hama, kebutuhan listrik di lahan pertanian, pengelolaan biomassa dan sampah, konservasi tanah dan air, serta rendahnya nilai tambah produk pertanian.
Menjawab tantangan tersebut, sebanyak 30 mahasiswa Universitas Diponegoro yang tergabung dalam KKN-IDBU Tim 21 mendampingi Pemerintah Desa Campuranom menyusun Masterplan Desa Campuranom 2027–2034. Masterplan tersebut mengintegrasikan pertanian regeneratif, pemanfaatan sumber daya secara sirkular, keberlanjutan lingkungan, dan penerapan teknologi dengan visi mewujudkan Campuranom sebagai Desa Wisata Pertanian Berbasis Teknologi yang Regeneratif, Sirkular, dan Berkelanjutan pada 2034.
Salah satu program masterplan yang saat ini dikembangkan adalah prototipe smart light trap bertenaga surya sebagai portofolio awal atau “tahun nol” penerapan konsep regeneratif, sirkular, dan berkelanjutan di Desa Campuranom. Kegiatan KKN ini sendiri berlangsung bulan Juni hingga Agustus 2026 dengan melibatkan mahasiswa dari berbagai program studi dan fakultas di Undip.
Tim didampingi oleh Ardy Wibowo, Ph.D. selaku ketua dosen pendamping dan Rendy Ega Pradhana, MAB dari Departemen Administrasi Bisnis, Alfia Putri Wulandari, S.T., M.T. dari Departemen Teknik Elektro, serta Chaieydha Noer Afiefah, S.P., M.Sc. dari Departemen Agroekoteknologi. Prototipe smart light trap bertenaga surya sendiri dibuat dengan sejumlah inovasi yang membedakannya dari perangkap cahaya konvensional.
Alat ini dirancang tidak hanya untuk menangkap serangga hama, tetapi juga agar lebih adaptif terhadap kondisi lahan, efisien dalam penggunaan energi, serta mudah dioperasikan oleh petani. Inovasi pertama berupa sistem solar tracker yang memungkinkan panel surya menyesuaikan posisinya terhadap arah datangnya cahaya matahari.
Inovasi kedua adalah blower penghisap berbasis sensor. Ketika sensor mendeteksi keberadaan serangga di sekitar sumber cahaya, blower akan menyala secara otomatis dan mengarahkan serangga ke dalam wadah penampungan. Sistem otomatis ini dirancang untuk meningkatkan efektivitas penangkapan tanpa membutuhkan pengoperasian secara terus-menerus oleh petani.
Alat tersebut juga menggunakan tiang yang dapat disesuaikan dengan ketinggian tanaman. Fitur ini memungkinkan smart light trap digunakan pada berbagai jenis komoditas dan fase pertumbuhan tanaman. Selain itu, struktur alat dibuat portabel agar mudah dipindahkan dari satu lahan ke lahan lainnya sesuai kebutuhan pengendalian hama.
Penanggung jawab pengembangan light trap, Nicholaus Ferdinand, mengatakan bahwa sistem alat tersebut dirancang mahasiswa sejak tahap awal dengan mempertimbangkan kebutuhan pertanian di Desa Campuranom. “Alat ini kami susun dari nol, mulai dari penyusunan konsep, pemilihan komponen, perancangan sistem energi, sensor dan blower, hingga pembuatan struktur alat,” kata Nicholaus dalam rilis Jumat 7 Agustus 2026.
Penyusunan masterplan dilakukan berdasarkan studi potensi dan permasalahan desa, observasi lapangan, diskusi bersama pemerintah desa, serta pengkajian oleh mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu. Hasil kajian kemudian diterjemahkan menjadi tahapan program pembangunan yang saling terhubung hingga 2034.
Ardy Wibowo, Ph.D. menjelaskan bahwa masterplan diharapkan tidak hanya menjadi dokumen perencanaan, tetapi juga menjadi arah bersama dalam membangun Desa Campuranom secara konsisten dan berkelanjutan. “Prinsip regeneratif, sirkular, dan berkelanjutan menjadi dasar agar pembangunan tidak hanya menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi juga memulihkan lingkungan, memperkuat sektor pertanian, dan meningkatkan kapasitas masyarakat,” ujar Ardy.
Kepala Desa Campuranom, Wirawan, S.T., berharap masterplan tersebut dapat menjadi pedoman pembangunan yang realistis dan dapat dilaksanakan secara bertahap. “Harapan kami, pada 2034 Desa Campuranom dapat berkembang menjadi desa wisata pertanian berbasis teknologi yang tetap menjaga kelestarian alam dan identitas desa sebagai wilayah agraris,” tutur Wirawan.
Ia juga berharap program yang telah dirumuskan dapat dilanjutkan setelah kegiatan KKN berakhir melalui kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, Undip, dan mitra lainnya. Praktik tersebut menjadi fondasi awal untuk mengembangkan pertanian yang tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga memperhatikan kesehatan tanah, keseimbangan ekosistem, dan keberlanjutan sumber daya.
Koordinator penyusunan masterplan, Akhtar Rasyad, menjelaskan bahwa penyusunan dokumen tersebut membutuhkan koordinasi lintas disiplin karena setiap persoalan desa memiliki keterkaitan. “Penyusunan masterplan dilakukan dengan mengintegrasikan hasil kajian mahasiswa dari berbagai bidang. Program pertanian, energi, pengelolaan limbah, irigasi, konservasi, hilirisasi produk, dan kelembagaan tidak dapat disusun secara terpisah,” jelas Akhtar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....