Hadirkan Ratusan Pakar di Semarang, PAAI-ICENIS 2026 Soroti Pengelolaan Air Tanah

  • 29 Jul 2026 14:54 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI) bersama Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro (Undip) memperkuat kolaborasi internasional dalam pengelolaan air tanah berkelanjutan. Hal ini diwujudkan melalui penyelenggaraan The 8th Annual Scientific Meeting of the Indonesian Groundwater Experts Association (PAAI) yang digelar bersamaan dengan 11th International Conference on Energy, Environment, and Information Systems (ICENIS) 2026 di Gumaya Tower Hotel, Semarang, Rabu, 29 Juli 2026.

Kegiatan tersebut menjadi forum bagi para peneliti, pembuat kebijakan, regulator, pelaku industri, dan praktisi untuk merumuskan solusi atas berbagai tantangan global. Konferensi mengusung tema Sustainable Tomorrow: Redefining a Holistic Environmental, Social, and Governance (ESG) Approach to Energy, Groundwater, and Information Systems.

Ketua PAAI sekaligus Ahli Hidrogeologi Institut Teknologi Bandung (ITB), Irwan Iskandar, Ph.D., mengatakan pengelolaan air tanah yang berkelanjutan kini tidak lagi sekadar menjadi isu lingkungan. "Melalui konferensi ini, PAAI dan ICENIS mendorong kolaborasi antara ilmuwan, pemerintah, industri, dan mitra internasional untuk menghasilkan solusi berbasis ilmu pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kebijakan pengelolaan air tanah berkelanjutan dan implementasi prinsip ESG," ujar Irwan.

Ia menjelaskan, konferensi tersebut diikuti lebih dari 400 peserta dari berbagai negara. Kegiatan itu menghadirkan pembicara dari Jerman, Polandia, Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, dan Indonesia, serta melibatkan 73 pemakalah oral, 10 pemakalah poster, dan 45 peserta kunjungan lapangan, termasuk dari Amerika Serikat.

Selama dua hari penyelenggaraan, peserta mengikuti kuliah utama, diskusi panel, sesi teknis paralel, presentasi poster, hingga kompetisi ilmiah. Pembahasan difokuskan pada empat bidang utama, yaitu lingkungan, energi, sistem informasi, dan air tanah, termasuk implementasi ESG, adaptasi perubahan iklim, kecerdasan artifisial (AI), pemantauan lingkungan, tata kelola air tanah, serta keterkaitan air dan energi (water-energy nexus).

Irwan mengungkapkan Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar terhadap sumber daya air tanah akibat urbanisasi, perkembangan industri, eksploitasi air tanah yang berlebihan, perubahan tata guna lahan, serta variabilitas iklim. Kondisi tersebut telah memicu penurunan muka air tanah, degradasi kualitas air, intrusi air laut, hingga penurunan muka tanah di sejumlah kawasan perkotaan dan industri.

Pembukaan konferensi dihadiri Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral yang diwakili Kepala Badan Geologi, Wali Kota Semarang, Rektor Universitas Diponegoro, Dekan Sekolah Pascasarjana Undip, pejabat Badan Geologi, perwakilan pemerintah provinsi, Dewan Sumber Daya Air Nasional, serta kalangan akademisi dan industri. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Kementerian ESDM melalui Dinas ESDM Jawa Tengah.

Rangkaian kegiatan turut mencakup kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi strategis di Semarang, seperti sumur artesis pertama di Indonesia, kawasan konservasi air tanah, serta stasiun pemantauan penurunan muka tanah milik Badan Geologi. Pada kesempatan yang sama juga diluncurkan Basis Data Air Tanah Nasional "Artesis" yang diharapkan memperkuat integrasi data dan mendukung pengelolaan air tanah berbasis data di Indonesia.

Irwan berharap konferensi internasional tersebut mampu menghasilkan rekomendasi yang dapat diimplementasikan di berbagai sektor. Ia juga berharap forum ini semakin memperkuat kemitraan riset internasional serta berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pengelolaan energi, air tanah, lingkungan, dan sistem informasi yang terintegrasi berbasis ilmu pengetahuan serta prinsip ESG.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....