Jebakan Algoritma, Peserta Didik Diajak Bijak Bermedia Sosial

  • 12 Mei 2026 23:07 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Algoritma digital saat ini mampu memantau kebiasaan manusia secara sangat rinci. Mulai dari video yang ditonton, barang yang dicari, lokasi yang sering dikunjungi, hingga opini yang disukai di media sosial.

Semuanya direkam menjadi data. Dari data tersebut dapat memprediksi perilaku seseorang, termasuk apa yang ingin dibeli, ditonton, bahkan diyakini.

“Semoga adik-adik bisa mengelola data diri. Harus hati-hati dengan data yang dimiliki. Algoritma bisa memantau habbit manusia. Melek teknologi dan literasi agar tidak dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggungjawab," kata Wakil Rektor IV UPGRIS, Prof. Dr. Nur Khoiri M.T., M.Pd., dalam acara Kelas Digital Sahabat Tunas yang digelar oleh Komdigi dengan menggandeng Universitas PGRI Semarang di gedung pusat pada 12 Mei 2026.

Di hadapan para peserta didik tingkat SMA di kota Semarang, Nur Khoiri menekankan pentingnya pemahaman dan literasi atas perangkat digital. Menurutnya, melek teknologi dan memiliki literasi digital menjadi penting agar masyarakat mampu berpikir kritis terhadap informasi yang muncul di internet.

“Tanpa pemahaman yang baik, anak-anak muda bisa mudah terjebak penggiringan opini yang dilakukan secara halus melalui algoritma. Dengan literasi yang kuat, masyarakat dapat lebih sadar dalam menjaga data pribadi, memilih informasi yang terpercaya, serta menggunakan teknologi secara bijak," ucapnya.

Ia juga menekankan adanya perbedaan persepsi dari generasi. Mulai dari generasi lama, gen Z hingga gen alpha.

“Situasi dan kondisinya berbeda. Medsoso bisa menjadi ancaman terhadap kesatuan dan disintegrasi serta lost generation. Jadi harus dimanfaatkan dengan baik. Medsos seperti mata pisau. Untuk itulah literasi menjadi sangat penting," ujarnya.

Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Strategis Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), Yudi Syahrial dalam sambutannya mengingatkan banyaknya jumlah pengguna internet dari kalangan anak-anak.

“Pengguna internet tahun 2025 sekitar 80 persen, 220 juta sudah menggunakan internet. 80 persennya anak-anak. Nah masalahnya ialah sering terjadi cyber bullying terhadap anak-anak dengan komentar jahat, body shaming, dsb.” terangnya.

Untuk itulah, pihaknya menekankan, kelas-kelas digital ini sangat penting bagi anak-anak. Edukasi secara nyata dan komunikatif diperlukan agar anak-anak mampu memahami pentingnya memanfaatkan media sosial dengan bijak.

Dalam acara tersebut hadir pula Muhamad Ahsan (Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang), Dr Lintang Ratri Ramhiaji (Pandu Literasi Digital Semarang), Kanti Nuarisha (Psikolog Anak dan Keluarga), serta Mikail Ziva (Duta Generasi Berencana Kota Semarang 2025).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....