Bank Sampah hingga Eco Enzyme, Langkah SMA 2 Batang Menuju Adiwiyata Nasional

  • 11 Mei 2026 15:52 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Batang – SMA Negeri 2 Batang terus memperkuat langkah menuju Sekolah Adiwiyata Nasional, setelah sebelumnya meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi di tahun 2024. Hal ini diwujudkan melalui berbagai program ramah lingkungan, mulai dari bank sampah hingga pengolahan limbah menjadi eco enzyme diterapkan untuk membangun kepedulian lingkungan warga sekolah.

Kepala SMA Negeri 2 Batang, Yulianto Nurul Furqon, mengatakan sekolah terus mengedukasi siswa agar peduli terhadap lingkungan belajar. Hal itu diungkapkannya saat Workshop Kampanye Lingkungan Hidup di Aula SMA Negeri 2 Batang, Senin, 11 Mei 2026.

Berbagai fasilitas pendukung seperti apotek hidup dan pengolahan sampah juga dimanfaatkan secara aktif. Menurutnya, siswa tidak hanya mendapat sosialisasi mengenai lingkungan melalui teknologi informasi, tetapi juga dilibatkan langsung dalam praktik pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos.

“Anak-anak langsung mempraktikkan cara pengolahan sampah menjadi pupuk kompos yang disiapkan di tempat khusus. Tidak hanya menyosialisasikan Sekolah Ramah Lingkungan lewat teknologi informasi, tapi juga mengolah langsung sampah organik yang dihasilkan sekolah,” ungkapnya.

Dalam mendukung proses menuju Sekolah Adiwiyata, SMA Negeri 2 Batang juga mendapat kunjungan Dinas Lingkungan Hidup Batang yang diisi sosialisasi pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan. “Ini gayung bersambut karena saat ini kami sedang berproses menuju Sekolah Adiwiyata, dengan mengedukasi anak didik agar peduli terhadap lingkungannya,” ujarnya.

Sementara, Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Batang, Sri Eli Yuliani, menilai sekolah telah menunjukkan kepedulian lingkungan. Hal itu terlihat dari kesiapan infrastruktur pendukung yang sudah berjalan.

“Mereka juga harus ikut memelihara lingkungan hidupnya. Dari sisi kesiapan infrastrukturnya, dengan membuat bank sampah hingga menerapkan Jumat Non Emisi yakni siswa menuntun sepeda motor ketika memasuki lingkungan sekolah,” ujarnya.

Selain itu, sisa limbah makanan di sekolah juga telah dimanfaatkan menjadi eco enzyme. “Biasanya kulit buah dari sisa MBG di sini sudah diolah jadi eco enzyme dari kulit buah atau sayuran menjadi pupuk alami,” katanya.

Salah satu siswi, Anggita, menilai edukasi lingkungan lebih efektif jika dilakukan melalui praktik langsung. Menurutnya, perubahan pola pikir masyarakat harus dibangun melalui keteladanan.

“Misalnya di sekolah kami sudah memanfaatkan sampah botol air mineral diolah jadi barang berguna lainnya. Pemilahan dan pengolahan sampah organik jadi kompos juga turut mendukung SMA 2 menjadi Sekolah Adiwiyata,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....