Ubah Sampah Jadi Listrik, Solusi di tengah Krisis Energi
- 13 Apr 2026 11:56 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang — Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan dinamika global yang memicu ketidakpastian pasokan, inovasi pengolahan sampah menjadi energi listrik mulai dilirik sebagai solusi alternatif. Tak hanya menjawab krisis energi, langkah ini juga menjadi jawaban atas persoalan klasik penumpukan sampah di daerah.
Ahli Pengelolaan Sampah Departemen Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro, Dr. Ir. Ika Bagus Priyambada, S.T., M.Eng. mengatakan, potensi tersebut terbilang sangat besar, khususnya di Jawa Tengah. Berdasarkan data, timbulan sampah di provinsi ini mencapai sekitar 6 juta ton per tahun atau setara 16.000–17.000 ton per hari.
Ia menegaskan, besarnya volume tersebut merupakan peluang besar yang belum dimanfaatkan secara optimal. “Artinya masih memiliki nilai untuk dimanfaatkan, salah satunya menjadi energi listrik,” ujarnya dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Senin, 13 April 2026.
Menurutnya, pemanfaatan sampah sebagai energi menjadi semakin relevan di tengah isu global, termasuk potensi kenaikan harga energi akibat konflik internasional. Dengan mengolah sampah menjadi listrik, Indonesia dapat mengurangi ketergantungan pada energi konvensional sekaligus memperkuat kemandirian energi berbasis sumber daya lokal.
Pemerintah pun telah mendorong percepatan program ini melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang pengolahan sampah menjadi energi listrik. “Dengan adanya Perpres ini, saya kira ini sudah bukan angan-angan lagi, tapi sudah masuk tahap implementasi,” kata Ika.
Regulasi tersebut menargetkan daerah dengan timbulan sampah minimal 1.000 ton per hari untuk mengembangkan fasilitas pengolahan berbasis teknologi termal. Menurutnya, daerah yang belum memenuhi kapasitas dapat menjalin kerja sama antarwilayah agar proyek tetap layak secara ekonomi.
Salah satu teknologi yang dinilai efektif adalah Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berbasis insinerator yang mampu mengolah sampah dalam jumlah besar secara cepat, bahkan hingga 1.000 ton per hari. Sampah langsung dikonversi menjadi energi listrik tanpa proses panjang seperti di tempat pembuangan akhir (TPA).
“Kalau 1.000 ton sampah masuk, saat itu juga bisa langsung diolah menjadi energi. Ini proses yang instan untuk menangani timbulan sampah yang besar,” katanya.
Selain itu, perkembangan teknologi memungkinkan sampah domestik yang belum terpilah tetap dapat diolah. Dengan nilai kalor berkisar 1.000–1.500 kkal per kilogram, sampah di Indonesia dinilai sudah mendekati bahkan memenuhi syarat sebagai bahan baku energi.
Tak hanya efisien, pengolahan sampah menjadi energi juga dinilai lebih aman dibandingkan metode konvensional. Teknologi modern telah dilengkapi sistem pengendalian emisi sesuai standar, sehingga risiko terhadap lingkungan dapat diminimalkan.
Ke depan, ia berharap pemerintah daerah dapat memanfaatkan potensi besar ini dengan menyiapkan infrastruktur, regulasi, serta pembiayaan yang memadai. Dengan demikian, jutaan ton sampah yang selama ini menjadi masalah dapat bertransformasi menjadi sumber energi baru yang berkelanjutan bagi Indonesia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....