Prof Kesi: Universitas Semarang Terjangkau dan Menjangkau Masyarakat
- 31 Mar 2026 17:23 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Ketua Pengurus Yayasan Alumni Undip, Prof Dr Kesi Widjajanti mengatakan Universitas Semarang (USM) sebagai salah satu perguruan tinggi terbesar di Jawa Tengah telah meraih akreditasi unggul. USM sebagai perguruan tinggi swasta yang terjangkau dan menjangkau masyarakat.
Hal itu dikatakannya dalam Halalbihalal Keluarga Besar Universitas Semarang (USM) pada 31 Maret 2026. ''Pencapaian USM sebagai perguruan tinggi swasta yang unggul merupakan arahan dan dukungan dari Pembina Yayasan Alumni Undip Pembina Prof. Sudharto P Hadi, MES, PhD dan tokoh-tokoh terbaik dari Undip,'' katanya.
Menurut dia, pencapaian akreditasi unggul yang diraih USM merupakan tantangan yang tidak mudah di era sekarang. Untuk itu, pihaknya berterima kasih kepada para pendiri USM dan jajaran yayasan alumni Undip, rektor beserta jajarannya.
''Kami berterima kasih kepada para pendiri USM. Di sini hadir ibu Prof. Dr Muljono, ibu Sudarmadi, ibu Miyasto, ibu Diah Suharsojo. Selain itu ada Bapak Kodradi, Prof Agus, Prof Sudarsono, Bapak Rektor, Bapak Prof Bintoro, dan Bapak Hadi Pramono,'' ujarnya.
Hal senada dikatakan Rektor USM Dr Supari MT. Menurutnya, pihaknya atas nama keluarga besar USM menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas dukungan bapak ibu semuanya, karena USM yang saat ini usia hampir 39 tahun sudah di level unggul.
''Alhamdulillah itu tidak akan tercapai tanpa kontribusi panjenengan semua termasuk para pendiri, pimpinan terdahulu, termasuk para dosen, karyawan yang sudah purna, para alumni, dan mahasiswa,'' ungkapnya.
Sementara, acara Halal Bihalal keluarga besar USM menghadirkan penceramah KH Muhammad Budi Harjono. Dalam tausiahnya, KH Muhammad Budi Harjono mengatakan, pola keberagamaan terbagi menjadi 2, yaitu ekstrinsik dan intrinsik.
Pola ekstrinsik ini pola yang sekarang sedang menggejala, simbol, ritual, tetapi becek secara sosial. Dimana, Nabi juga mengatakan kalau pola keberagamaan masih seperti ini akan tetap bangkrut, karena individual tak mampu menutupi kebecekan sosial.
“Maka saya cenderung mengajak kita dalam pola beragama itu adalah pola intrinsik yang cenderung inklusif, jangan sampai bersifat sektarialistik, primordialistik yang bersifat mempersempit hati terhadap agama. Apapun saya apresiasi secara hatinya, bukan bentuk rupa dan perbedaannya. Halalbihalal adalah kembali ke fitrah, kembali ke Allah dengan taubat,'' tuturnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....