Menag Nasaruddin Umar: Al-Qur’an Harus Jadi Pedoman Kehidupan

  • 21 Sep 2026 09:50 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar mengajak sivitas akademika UIN Walisongo Semarang tidak hanya membaca, menghafal, dan mempelajari Al-Qur’an. Ia menekankan pentingnya menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut dinilai semakin relevan di tengah perkembangan teknologi, termasuk kemajuan super artificial intelligence (AI). Menurut Nasaruddin, kemajuan teknologi dapat membuka peluang bagi manusia, tetapi harus diimbangi dengan landasan moral dan spiritual agar pemanfaatannya tetap memberikan manfaat bagi kehidupan.

Pesan itu disampaikan Nasaruddin saat memberikan Kuliah Subuh Bersama Menteri Agama RI di Masjid Walisongo, Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Minggu 20 September 2026. Kegiatan tersebut diikuti pimpinan dan sivitas akademika UIN Walisongo serta santri Ma’had Al-Jami’ah.

Dalam kuliah subuhnya, Nasaruddin mengajak peserta merenungkan kedudukan dan pesan utama Al-Qur’an. Menurutnya, nilai-nilai Al-Qur’an pada akhirnya bermuara pada nilai ketuhanan dan kasih sayang.

Ia menjelaskan, pesan Al-Qur’an dapat dipadatkan dalam Surah Al-Fatihah yang kemudian tercermin dalam ayat pertama, Bismillahirrahmanirrahim, yang menegaskan sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Nasaruddin menekankan, manusia tidak cukup hanya memiliki kemampuan teknologi. Kemampuan tersebut harus disertai nilai dan karakter sebagai landasan dalam memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.

Karena itu, ia mengajak mahasiswa dan santri meningkatkan kedekatan dengan Al-Qur’an. Hubungan dengan Al-Qur’an, menurutnya, tidak berhenti pada aktivitas membaca, menghafal, maupun mempelajarinya.

Lebih jauh, nilai-nilai Al-Qur’an harus tercermin dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari. Gagasan “Being the Quran” menjadi salah satu pesan yang ditekankannya.

Artinya, Al-Qur’an tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi nilai-nilainya diwujudkan melalui sikap, tindakan, dan kepedulian terhadap sesama. Pesan tersebut dinilai relevan bagi santri Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo yang tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter, spiritualitas, dan kepedulian sosial.

Nasaruddin juga mengingatkan pentingnya memaknai rasa syukur. Menurutnya, syukur tidak cukup hanya diucapkan melalui tahmid, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata dengan menggunakan nikmat Allah secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat bagi orang lain.

Rektor UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Musahadi, turut hadir dalam kegiatan tersebut. Dalam kesempatan itu, sivitas akademika juga memanjatkan doa agar UIN Walisongo terus berkembang dalam keberkahan dan semakin memberikan kemanfaatan bagi masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....