Sampah Pangan Meningkat, Ahli Lingkungan Soroti Bahaya Lindi

  • 19 Mar 2026 12:24 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang- Ahli Pengelolaan Sampah Departemen Teknik Lingkungan Universitas Diponegoro(Undip), Dr. Ir. Ika Bagus Priyambada, S.T., M.Eng. mengingatkan bahaya lindi yang dapat mencemari lingkungan. Peningkatan timbunan sampah, khususnya sampah makanan, berpotensi memicu bertambahnya produksi lindi yang dapat mencemari lingkungan.

Ia menjelaskan, lindi merupakan cairan yang dihasilkan dari sampah dengan kadar air tinggi atau akibat kontak sampah dengan air hujan. Cairan tersebut membawa berbagai zat pencemar yang berpotensi merusak lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

Menurutnya, karakteristik sampah di Indonesia yang didominasi bahan organik basah serta didukung kondisi iklim lembap membuat potensi terbentuknya lindi semakin besar. Peningkatan aktivitas konsumsi, termasuk dari program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis, turut berkontribusi pada bertambahnya volume sampah.

“Sampah makanan sehari-hari, di restoran, di hotel, di warung, di sekolah, termasuk MBG, itu kan meningkatkan timbulan sampah. Dengan karakteristik sampah yang memiliki kadar air yang tinggi, kemudian iklim relatif basah, kalau sampah itu tidak dikelola dengan baik, tentu saja potensi lindi semakin banyak,” ujarnya dalam dialog di PRO4 RRI Semarang, Rabu, 18 Maret 2026.

Ia menambahkan, dampak lindi tidak hanya terbatas pada pencemaran tanah, tetapi juga dapat mencemari air permukaan dan air tanah. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat merusak ekosistem perairan dan mengancam kesehatan masyarakat.

Pengelolaan sampah di Kota Semarang sendiri masih didominasi pola konvensional, yakni kumpul, angkut, dan buang ke TPA. Meski telah ada upaya pengurangan seperti bank sampah dan TPS 3R, bahkan pengelolaan sampah oleh kelompok masyarakat, volume sampah yang mencapai ratusan ton per hari dinilai belum tertangani optimal.

“Jumlah sampah yang masuk ke TPA Jatibarang itu 800-900 ton per hari dan banyak TPA di kota/kabupaten lain itu sudah overload, sudah mendapatkan warning dari Kementerian Lingkungan Hidup, bahkan ada ada beberapa yang diminta untuk ditutup. Itu sudah menunjukkan bahwa sebenarnya kita memerlukan suatu tindakan yang lebih besar dalam skala kota, kabupaten, bahkan provinsi, regional,” katanya.

Ia menekankan, langkah paling efektif untuk mengurangi dampak lindi adalah pencegahan dari sumber. Salah satunya dengan mengurangi sisa makanan serta membiasakan masyarakat untuk mengambil dan mengonsumsi makanan secukupnya.

Selain itu, masyarakat juga diimbau menggunakan wadah sampah yang kedap air agar lindi tidak mudah keluar dan mencemari lingkungan sekitar. Edukasi dan perubahan perilaku menurutnya menjadi kunci dalam pengendalian masalah sampah.

Sebagai solusi jangka panjang, ia mendorong penerapan teknologi pengolahan sampah yang lebih modern serta penguatan peran semua pihak. Pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha diharapkan dapat berkolaborasi mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....