Komunitas Affiliate Pekalongan Jadi Motor Ekonomi Digital dan Bantu Pelaku UMKM
- 15 Jun 2026 18:44 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Komunitas Affiliate Pekalongan Jadi Motor Ekonomi Digital dan Bantu Pelaku UMKM
- UMKM Kabupaten Pekalongan
RRI.CO.ID, Pekalongan - Di tengah tantangan kemiskinan dan terbatasnya lapangan kerja formal, sektor ekonomi digital mulai menunjukkan peran strategis sebagai sumber penghasilan baru bagi masyarakat. Salah satu inisiatif yang muncul dari akar rumput adalah gerakan Komunitas Affiliate Pekalongan melalui kegiatan edukasi dalam mendukung pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
Komunitas Afiliator Pekalongan menggelar kopi darat (kopdar) bertajuk “TikTok Affiliate Bukan Sekadar Konten Jualan” di Kafe Teman Cerita, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai daerah, mulai dari Pekalongan, Batang, hingga Tegal.
Tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, kegiatan ini juga menjadi ruang belajar bagi masyarakat yang ingin memanfaatkan platform digital untuk memperoleh penghasilan tambahan maupun membangun usaha secara mandiri.
Ketua Komunitas Afiliator Pekalongan, Winaryo mengatakan, Affiliate marketing saat ini telah berkembang menjadi salah satu peluang ekonomi yang menjanjikan. Namun, untuk berhasil di bidang tersebut, dibutuhkan kemampuan membuat konten yang menarik dan strategi pemasaran yang tepat.
“Untuk kegiatan hari ini, kita mengadakan kopdar afiliator Pekalongan. Kegiatannya membahas seputar bagaimana kita membuat konten yang baik, karena di dunia afiliator itu bukan hanya ngonten, tapi bagaimana caranya bisa dapat cuan,” kata Winaryo, Senin 16 Juni 2026.
Menurutnya, komunitas yang dipimpinnya tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan anggota, tetapi juga berupaya membangun ekosistem yang menghubungkan pelaku usaha dengan afiliator. Keberadaan afiliator dapat menjadi mitra penting bagi pelaku UMKM dalam memperluas jangkauan pemasaran produk tanpa harus mengeluarkan biaya promosi yang besar.
“Afiliator ini sangat membantu UMKM dan juga membantu keuangan kita. Jadi jangan malu untuk konten, kita belajar bareng, kita cuan bersama,” ujarnya.
Winaryo menambahkan, komunitas tersebut memiliki agenda rutin setiap bulan untuk berbagi pengalaman dan strategi. Selain itu, setiap dua bulan sekali komunitas menghadirkan narasumber dari luar daerah guna memperkaya wawasan anggota. Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan materi dari konten kreator lokal Duo Lhogok serta kreator asal Jakarta yang dikenal sebagai Bang Neo.
Mereka membagikan pengalaman membangun audiens, mengembangkan personal branding, hingga menciptakan konten yang mampu menghasilkan konversi penjualan.
Aldi dan Umam dari Duo Lhogok menekankan bahwa keberhasilan seorang afiliator tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menjual produk, tetapi juga bagaimana membangun identitas dan kepercayaan di media sosial.
“Kita sharing tentang bagaimana cara belajar menjadi konten kreator dan bagaimana membangun personal branding di sosial media,” ujar mereka.
Tingginya antusiasme peserta menjadi gambaran bahwa peluang ekonomi digital semakin diminati masyarakat. Menariknya, peserta yang hadir tidak hanya didominasi generasi muda, tetapi juga kalangan usia matang yang ingin memanfaatkan teknologi untuk menambah penghasilan.
“Ini menarik sekali, karena ada seller, afiliator, dan masyarakat umum yang ingin belajar. Banyak juga yang bertanya tentang cara membangun personal branding,” kata Aldi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital kini tidak lagi menjadi ruang eksklusif anak muda. Masyarakat dari berbagai usia mulai melihat platform digital sebagai sarana untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.
Duo Lhogok menilai geliat ekonomi kreatif berbasis digital di Pekalongan memiliki prospek besar apabila terus didukung dengan edukasi dan kolaborasi yang berkelanjutan.
“Harapannya, output-nya bisa meningkatkan ekonomi teman-teman di Pekalongan. Apalagi sudah ada komunitas seperti ini, sangat bagus untuk membuka peluang usaha, terutama untuk anak muda,” imbuhnya.
Sementara itu, salah satu peserta, Akbar, mengaku terbantu dengan adanya komunitas tersebut. Menurutnya, akses belajar yang sebelumnya harus dilakukan secara mandiri kini menjadi lebih mudah karena tersedia wadah untuk bertukar pengalaman dan mendapatkan bimbingan langsung dari para praktisi.
“Kalau dulu saya harus belajar sendiri, sekarang jadi punya banyak teman. Semoga kegiatan seperti ini rutin diagendakan karena sangat bermanfaat untuk membantu orang mendapatkan penghasilan,” ujarnya.
Keberadaan Komunitas Afiliator Pekalongan menjadi bukti bahwa pengentasan kemiskinan tidak hanya dapat dilakukan melalui sektor konvensional. Di era digital, peluang ekonomi baru lahir dari kreativitas, kemampuan beradaptasi dengan teknologi, serta kemauan untuk terus belajar.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....