OJK Catat Kredit Perbankan Tumbuh 12,67 Persen, Tertinggi pada Kredit Investasi

  • 05 Agt 2026 13:18 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kinerja intermediasi perbankan nasional terus menunjukkan penguatan pada Juni 2026. Pertumbuhan kredit meningkat menjadi 12,67 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan total penyaluran mencapai Rp9.081 triliun, didorong meningkatnya pembiayaan untuk kegiatan investasi.

Data tersebut disampaikan Kepala Ekskutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae dalam hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulan Juli 2026 secara daring, Selasa, 4 Agustus 2026. "Kinerja intermediasi perbankan melanjutkan tren penguatan dengan profil risiko yang terjaga, pertumbuhan kredit pada Juni 2026 kembali terakselerasi ke 12,67 persen yoy menjadi sebesar Rp9.081 triliun," ujarnya.

Berdasarkan jenis penggunaan, ia menyebut pertumbuhan kredit investasi menjadi yang tertinggi dibandingkan jenis kredit lainnya. Kredit investasi tumbuh 24,9 persen yoy, diikuti kredit modal kerja sebesar 8,94 persen yoy, dan kredit konsumsi 5,75 persen yoy.

Sementara, berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi menjadi penyumbang pertumbuhan tertinggi dengan kenaikan 20,45 persen yoy. “Sementara itu, kredit kepada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menunjukkan perbaikan dengan tumbh positif dengan pertumbuhan 1,05 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya.

Dari sisi kepemilikan bank, kredit yang disalurkan bank BUMN tumbuh paling tinggi, yakni 16,54 persen yoy. Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga masih tumbuh positif sebesar 10,21 persen yoy menjadi Rp10.282 triliun, sedangkan giro, deposito, dan tabungan masing-masing mengalami pertumbuhan 9,95 persen, 8,25 persen, dan 12,16 persen secara tahunan.

Pertumbuhan kredit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan DPK sehingga rasio likuiditas mengalami penurunan. Meski demikian, OJK menilai kondisi likuiditas industri perbankan masih berada pada level yang memadai.

Sementara itu, kualitas kredit juga dinilai terus membaik. Hal ini tercermin dari penurunan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) gross menjadi 2,09 persen, sedangkan permodalan bank tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 23,70 persen.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....