Regenerasi dan Perluasan Pasar Jadi Tantangan Batik Rifaiyah Batang

  • 15 Sep 2026 14:32 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Batang – Regenerasi pembatik muda dan perluasan pasar menjadi dua tantangan utama yang masih dihadapi Batik Rifaiyah Kabupaten Batang. Padahal, batik khas tersebut telah menembus pasar Singapura. Untuk menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memperluas pemasaran, kerja sama Ford Foundation dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) akan diperpanjang.

Analis Kerja Bilateral dan Regional, Pusat Fasilitasi Kerja Sama Kemendagri, Ahmad Rifanto mengatakan, regenerasi penting dilakukan agar keberadaan pembatik sekaligus seni membatik Rifaiyah tidak terputus. Di sisi lain, produk yang telah dipasarkan hingga luar negeri masih membutuhkan dukungan promosi untuk memperluas pasar.

"Tadi sudah berbincang dengan salah seorang pembatik Rifaiyah yang sudah lanjut usia, namun tetap konsisten melakukan potensinya di tengah kesederhanaan. Meski sudah dipasarkan sampai Singapura, tapi masih mengalami kendala promosi, agar ada perluasan pangsa pasar," tegasnya, di Komplek Kampung Batik Rifaiyah, Kalipucang Wetan, Kabupaten Batang, Selasa 15 September 2026.

Menurut Ahmad, kondisi lingkungan pembatik yang sederhana justru menjadi bagian dari keaslian Batik Rifaiyah. Proses pembuatan yang masih mempertahankan teknik tradisional membuat batik tersebut memiliki karakter berbeda dibandingkan produk batik yang berkembang pada era kekinian.

"Di situlah letak kekhasan batik tulis Rifaiyah yang sangat bagus, mulai motif, pewarnaan dan berbeda dengan batik di era kekinian," ujarnya.

Regional Director at Ford Foundation Indonesia, Alexander Irwan mengatakan, pelestarian Batik Rifaiyah tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan produk budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana memperkuat pluralisme dan keberagaman melalui seni membatik. Program Batik Bhinneka Tunggal Ika menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan potensi tersebut.

Alexander mengatakan, Batik Rifaiyah mulai bangkit dalam tiga tahun terakhir melalui kolaborasi antara pemerintah daerah dan pembatik. Perkembangan tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjadi contoh revitalisasi batik di daerah lain, terutama dalam pemberdayaan pembatik lokal dan regenerasi pembatik muda.

"Ke depan batik khas Batang ini bisa makin maju, bahkan melihat kesuksesan Batik Rifaiyah bisa jadi percontohan dalam proses revitalisasi batik di wilayah lain. Yakni mempromosikan toleransi dan keberagaman, pemberdayaan pembatik lokal dan memfasilitasi regenerasi pembatik muda," tegasnya.

Sekretaris Dekranasda Batang, Abu Huraeroh mengatakan, penguatan kapasitas pembatik dilakukan melalui pelatihan bersama maestro batik nasional Dudung Alisyahbana. Selain peningkatan keterampilan, pembaruan alat membatik dan perluasan pangsa pasar juga terus didorong agar produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

"Semoga pelatihan yang diberikan bisa menambah nilai perekonomian pembatik Rifaiyah karena makin memahami metode menghasilkan batik berkualitas hingga menghasilkan pundi-pundi rupiah," bebernya.

Salah satu pembatik Rifaiyah, Miftakhutin menyambut baik program Batik Bhinneka Tunggal Ika karena memberikan kesempatan kepada pembatik untuk mengenalkan proses dan kekhasan batik Rifaiyah kepada generasi muda. Menurutnya, ruang kolaborasi semacam ini penting untuk memastikan keterampilan membatik tidak berhenti pada generasi yang saat ini masih aktif.

"Ya sangat senang diajak kolaborasi seperti ini, agar pembatik dan karyanya tidak punah," ungkapnya.

Melalui program Batik Bhinneka Tunggal Ika, karya batik dari berbagai daerah di Nusantara turut diperkenalkan, termasuk Batik Rifaiyah dari Kabupaten Batang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....