Rawat Kebersamaan, Warga Desa Demaan Kudus Bangkitkan Tradisi Golok – Golok Menthok

  • 27 Agt 2026 09:42 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Kudus - Tradisi Golok-Golok Menthok kembali digelar di Desa Demaan, Kudus. Memasuki penyelenggaraan yang kelima, tradisi yang hampir punah tersebut kembali dihidupkan masyarakat setempat sebagai bentuk upaya merawat warisan budaya sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Ketua Panitia Golok-Golok Menthok, Ubaidillah Andoko, mengatakan tahun ini pihaknya mengangkat tema “Merawat Tradisi di Era Globalisasi”. Tema tersebut menjadi pengingat agar tradisi peninggalan leluhur tetap dikenal dan dilestarikan meski masyarakat berada di tengah perkembangan zaman.

“Alhamdulillah, kami sudah menjaga tradisi yang hampir punah. Pada kesempatan saat ini, tahun ini kami mengambil tema ‘Merawat Tradisi di Era Globalisasi’,” ujar Ubaidillah.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut melibatkan sekitar 600 peserta yang berasal dari sejumlah masjid, pondok pesantren, serta sekolah umum. Mereka terbagi dalam enam kontingen yang mengikuti kirab.

Rute kirab dimulai dari Masjid Al-Mubarok, kemudian menuju perempatan Pekojan, berlanjut ke kawasan Alun-Alun hingga depan Masjid Agung Kudus. Tradisi tersebut menjadi bentuk ekspresi kecintaan masyarakat terhadap Nabi sekaligus sarana syiar Islam yang diwariskan dari generasi sebelumnya.

Setelah kirab, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan acara bersama dan makan bersama seluruh peserta. Ubaidillah menerangkan, Golok-Golok Menthok merupakan salah satu tradisi masyarakat Kudus yang berkaitan dengan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

“Golok-Golok Menthok memang tradisi dari Kudus untuk memperingati kelahiran Nabi. Jadi kami, khususnya warga yang ada di sini, mengadakan tradisi yang dulu bahwa ini bentuk kecintaan kami kepada Nabi,” ungkapnya.

Salah satu bagian penting dalam tradisi tersebut adalah keranjang Golok-Golok Menthok yang dibawa dalam kegiatan. Menurut Ubaidillah, isi keranjang pada zaman dahulu antara lain berupa ketan. Namun, seiring perkembangan zaman, isinya kini lebih beragam dan banyak menggunakan makanan atau jajanan yang lebih modern.

Ia menambahkan, warna keranjang yang digunakan tidak memiliki ketentuan khusus. Warna tersebut lebih banyak mengikuti selera para pengrajin, sehingga tidak selalu sama.

Dalam pelaksanaannya tahun ini, sekitar 750 keranjang Golok-Golok Menthok turut disiapkan. Selain kirab, rangkaian acara juga dimeriahkan marching band, penampilan dari pondok pesantren dan masjid, serta tabuhan beduk.

Menurut Ubaidillah, terdapat sekitar enam beduk yang disiapkan dalam kirab, sementara beberapa di antaranya akan digunakan dalam rangkaian kegiatan malam Maulid. Selain itu, masyarakat juga menggelar makan bersama dengan menu yang beragam.

Hidangan yang disajikan antara lain jajanan, makanan berat, lontong opor, nasi kebuli, bakso, dan berbagai menu lainnya secara bergantian. “Harapan untuk masyarakat, jangan sampai tradisi-tradisi yang dulu punah, di zaman dulu nenek moyang kita ada semacam ini dan perlu kita lestarikan," ujarnya.

Sementara itu, bagi masyarakat Desa Demangan, kegiatan Golok-Golok Menthok juga memiliki makna sosial. Tradisi tersebut dinilai mampu mempererat hubungan antarwarga karena masyarakat dapat berkumpul dan berpartisipasi bersama dalam satu kegiatan.

“Makna dari kami, khususnya di Desa Demaan, Golok-Golok Menthok ini bisa mempererat satu sama lain. Bisa guyub bersama di dalam suatu kegiatan,” ucapnya. (RK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....