Budaya Lokal Jadi Perekat Persatuan di Tengah Polarisasi Media Sosial

  • 11 Agt 2026 13:47 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Kearifan lokal dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk meredam polarisasi yang semakin mudah muncul di tengah maraknya penggunaan media sosial. Hal itu dikemukakan Budayawan dari Kota Semarang, Yudiono KS dalam wawancara bersama Pro 1 RRI Semarang, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurut Yudiono, polarisasi zaman dahulu penyebarannya cukup lambat dikarenakan, perlunya pertemuan secara tatap muka. Namun, di masa kini, silang pendapat di media sosial seringkali dijumpai, terkadang oleh akun yang tidak jelas asal usulnya.

”Penting, kita harus kritis terdapat semua informasi dari media sosial. Terkadang ada akun anonim yang kita tidak tahu asal usulnya,” ujarnya.

Ia menilai kemampuan masyarakat menyaring informasi menjadi semakin penting agar perbedaan pandangan di media sosial tidak berkembang menjadi konflik antarkelompok. Sikap kritis diperlukan terutama ketika masyarakat menerima informasi yang belum jelas sumber maupun kebenarannya.

Di sisi lain, polarisasi antar kelompok dapat diredam dengan kearifan budaya setempat. Setiap daerah memiliki kebudayaan masing – masing sehingga dapat meredam gejolak antar kelompok.

”Ada sedekah bumi, larung laut, syawalan, kirab budaya dan sebagainya. Itu semua dapat mempererat persatuan,” ucapnya.

Menurutnya, setiap kegiatan budaya memiliki filosofi persatuan antar individu maupun kelompok yang sangat kuat. Ia mencontohkan, sedekah bumi dan kirab budaya tidak dapat terlaksana jika hanya digerakan beberapa orang saja.

”Acara kebudayaan kan melibatkan banyak orang. Di situ akan saling interaksi, membantu, tidak ada yang paling hebat, tidak ada yang paling lemah. Semua saling bergotong royong,” kata akademisi dari Universitas Diponegoro tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....