Tradisi Sadranan di Cepogo Boyolali Jadi Momentum Pererat Silaturahmi Warga
- 10 Agt 2026 10:39 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Boyolali - Tradisi Sadranan di Kelurahan Kembang Kuning, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tidak hanya menjadi momentum untuk mendoakan leluhur, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. Tradisi yang digelar Sabtu, 8 Agustus 2026, tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk menjaga kebersamaan dan hubungan baik dengan keluarga, tetangga, kerabat, maupun tamu.
Rangkaian Sadranan diawali dengan warga yang berbondong-bondong mendatangi makam untuk membersihkan makam leluhur dan melaksanakan doa bersama. Warga juga membawa berbagai makanan menggunakan wadah yang oleh masyarakat setempat disebut tenong.
Setelah doa bersama selesai, makanan yang dibawa tersebut disantap bersama sebagai bagian dari tradisi tenongan. Membuka pintu rumah untuk menjamu tamu menjadi bagian penting dalam tradisi Sadranan masyarakat Cepogo.
Beragam hidangan disiapkan oleh tuan rumah untuk menjamu tamu yang datang bersilaturahmi. Hidangan tersebut tidak hanya menjadi sajian makan bersama, tetapi juga bentuk penghormatan dan keterbukaan terhadap sesama.
Tokoh masyarakat setempat, Marsono, menjelaskan, membuka rumah menjadi bagian penting dalam tradisi ini. “Membuka rumah dalam tradisi Sadranan itu memiliki berbagai makna sebagai bentuk kerukunan, keterbukaan, dan penghormatan kepada keluarga, tetangga, kerabat, serta tamu yang bersilaturahmi,” ujarnya.
Salah satu warga yang membuka rumah saat Sadranan, Ririt Puji Astuti, mengungkapkan tradisi tersebut sudah dijalankan sejak dirinya lahir. Menurutnya, setelah membersihkan makam dan mengikuti doa bersama, warga kemudian bersilaturahmi dari rumah ke rumah.
“Tamu yang banyak itu merupakan simbol dari menjaga dan mempererat tali silaturahmi. Sebagai tuan rumah, jujur saya sangat senang sekali dalam menjamu tamu dengan berbagai hidangan,” kata Ririt.
Menurut Ririt, persiapan menjamu tamu dilakukan sejak sebelum pelaksanaan Sadranan. Mulai dari berbelanja bahan makanan, memasak, hingga membersihkan rumah.
Berbagai jenis hidangan yang disajikan pun tidak harus mewah, tetapi disesuaikan dengan kemampuan masing-masing warga. Baginya, yang terpenting adalah kesempatan untuk berkumpul dan menerima tamu dengan penuh keterbukaan.
Salah seorang tamu, Muslih Ibnu Wahid mengaku sengaja mengikuti acara Sadranan untuk ikut melestarikan budaya leluhur. “Sadranan ini memberikan manfaat kepada kita agar bisa mempererat tali persaudraan dan silaturahmi, bahkan dapat menambah teman,” ujar warga Candisari, Gladagsari, Boyolali itu.
Muslih berharap tradisi Sadranan tidak luntur di tengah cepatnya perkembangan zaman. Ia juga berharap generasi muda ikut terlibat dalam pelaksanaan Sadranan, sehingga nilai kebersamaan, gotong royong, keterbukaan, dan silaturahmi dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi. (Frantajam/Mg)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....