Wali Kota Perkenalkan Tari Dug Dug Der, Ikon Budaya Lokal Baru Kota Semarang
- 07 Agt 2026 09:37 WIB
- Semarang
Poin Utama
- Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memperkenalkan Tari Dug Dug Der sebagai identitas budaya baru yang merepresentasikan semangat kebersamaan dan toleransi masyarakat Semarang.
- Tari Dug Dug Der terinspirasi dari tradisi Dugderan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dan menjadi kebanggaan masyarakat Semarang.
- Tarian ini diharapkan menjadi media pelestarian budaya sekaligus memperkuat nilai-nilai gotong royong, persatuan, dan toleransi di tengah keberagaman warga Kota Semarang.
RRI.CO.ID, Semarang – Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng memperkenalkan Tari Dug Dug Der sebagai identitas budaya baru yang merepresentasikan semangat kebersamaan masyarakat Kota Semarang. Tarian tersebut diharapkan menjadi media pelestarian budaya sekaligus memperkuat nilai toleransi, gotong royong, dan persatuan di tengah keberagaman warga.
Menurut Agustina, Tari Dug Dug Der lahir dari sejarah panjang Kota Semarang sebagai kota yang tumbuh melalui perjumpaan berbagai etnis, budaya, agama, dan tradisi. Inspirasi tarian tersebut juga berakar dari tradisi Dugderan yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dan menjadi kebanggaan masyarakat Semarang.
"Kota Semarang berdiri di atas keberagaman, perbedaan bukan sesuatu yang memisahkan, melainkan kekuatan yang menyatukan kita. Filosofi itulah yang hidup dalam Tari Dug Dug Der, gerakan-gerakannya merupakan simbol masyarakat yang melangkah bersama, saling menghormati, dan bergotong royong membangun kota," ujarnya, Kamis, 6 Agustus 2026.
Ia menjelaskan gerakan Tari Dug Dug Der dirancang sederhana sehingga mudah dipelajari oleh pelajar, komunitas seni, hingga masyarakat umum dari berbagai kalangan usia. Dengan konsep tersebut, tarian diharapkan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda secara berkelanjutan.
"Budaya hanya akan tetap hidup apabila terus diwariskan dan dipraktikkan oleh masyarakatnya. Karena itu, Tari Dug Dug Der hadir sebagai media untuk mengenalkan kembali nilai-nilai budaya lokal kepada generasi muda, agar mereka semakin bangga terhadap identitas daerahnya," katanya.
Agustina menegaskan pembangunan Kota Semarang tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kekuatan modal sosial yang dimiliki masyarakatnya. Menurutnya, Tari Dug Dug Der menjadi simbol persatuan yang memperlihatkan wajah Kota Semarang sebagai kota yang inklusif, rukun, dan menghargai keberagaman.
"Budaya adalah perekat kehidupan sosial. Saat warga dari berbagai latar belakang dapat menari bersama tanpa sekat, di situlah kita memperlihatkan wajah asli Kota Semarang: rukun, terbuka, dan menghargai keberagaman, inilah modal terbesar kita untuk membangun masa depan," ucapnya.
Sebagai bagian dari peluncuran tarian tersebut, Pemerintah Kota Semarang akan menggelar Festival Tari Dug Dug Der di Lapangan Pancasila Simpang Lima pada Minggu, 9 Agustus 2026 mendatang. Festival itu ditargetkan melibatkan sekitar 25 ribu penari sekaligus memperkuat posisi Dugderan sebagai ikon budaya dan daya tarik pariwisata Kota Semarang.
"Mari kita ramaikan Festival Tari Dug Dug Der besok Minggu, di Lapangan Pancasila Simpang Lima, datanglah bersama keluarga, sahabat, dan tetangga. Mari bergerak bersama, merayakan keberagaman, mencintai budaya sendiri, dan menunjukkan kepada Indonesia bahwa Semarang adalah kota yang rukun, toleran, dan bangga akan budayanya," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....