Gen Z Buktikan Tari Tradisional Tetap Eksis di Era Digital

  • 29 Jul 2026 15:57 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Di tengah dominasi budaya populer digital, tari tradisional ternyata tetap memiliki ruang di hati generasi muda, khususnya Generasi Z. Salah satunya dibuktikan Keizha Fahra Angeline, pelajar di Semarang yang konsisten melestarikan tari tradisional sejak duduk di kelas enam SD.

Ketertarikannya bermula setelah menyaksikan berbagai tarian penyambutan dalam sejumlah acara yang dihadirinya. Rasa penasaran itu membawanya bergabung dengan sanggar tari hingga akhirnya mencintai berbagai tarian tradisional Indonesia.

Menurut Angeline, budaya Indonesia menyimpan kekayaan yang harus dijaga bersama, terutama oleh generasi muda. "Aku tertarik menjadi salah satu pelopor pelestarian budaya, karena menurutku tari mulai hampir dilupakan,” ujarnya di siaran Pro 2 FM Semarang, Senin, 27 Juli 2026.

Perjalanannya dimulai dari mempelajari gerakan dasar, latihan ekspresi, hingga membawakan berbagai tarian khas Jawa Tengah. Tarian Gambang Semarang menjadi karya pertama yang dipelajarinya sebelum menguasai tarian dengan tingkat kesulitan lebih tinggi.

Kini Angeline lebih menyukai tari tradisional pakem dibanding tari kreasi karena mempertahankan keaslian gerak, kostum, dan makna budaya. Meski demikian, ia mengakui tari kreasi berhasil menarik perhatian generasi muda melalui sentuhan musik dan koreografi modern.

Menurutnya, media sosial justru menjadi peluang besar memperkenalkan tari tradisional kepada masyarakat yang lebih luas. Tutorial tari, dokumentasi pertunjukan, hingga konten kreatif membuat tari tradisional semakin mudah ditemukan di berbagai platform digital.

“Di era digital, tari justru semakin luas jangkauannya. Banyak konten dan tutorial yang membuat anak muda tertarik belajar,” katanya.

Angeline menilai anggapan tari tradisional sebagai kesenian kuno sudah mulai berubah di kalangan generasi muda. Ia melihat semakin banyak festival, lomba, hingga pertunjukan yang menghadirkan tari tradisional maupun tari kreasi.

Baginya, perkembangan tersebut menjadi bukti budaya dapat mengikuti zaman tanpa kehilangan identitas utamanya. Angeline berharap semakin banyak anak muda berani mempelajari, menampilkan, dan membagikan tari tradisional melalui media sosial.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....