Kirab Budaya Gebyuran Bustaman Semarakkan MT Haryono hingga Pekojan

  • 16 Feb 2026 13:43 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Hujan yang sempat mengguyur Kota Semarang tak menyurutkan langkah warga Kampung Bustaman pada rangkaian Gebyuran Bustaman 2026. Malam itu, jalan MT Haryono hingga Pekojan berubah menjadi ruang perayaan terbuka.

Ratusan warga berjalan beriringan dalam Kirab Budaya, mengenakan busana tradisional dan kostum unik, diiringi musik, sorak-sorai, dan cahaya lampu jalan yang memantul di aspal basah.Barisan kirab bergerak dari Kampung Bustaman menuju Jalan MT Haryono, lalu menyusuri Pekojan sebelum kembali ke kampung.

Di sepanjang rute, warga menari, melambaikan tangan, dan sesekali berhenti untuk mengatur barisan. Anak-anak berjalan berdampingan dengan orang tua, remaja berada di barisan depan membawa semangat, sementara iringan musik menjaga ritme langkah.

Remaja Bustaman Nisa, yang ikut dalam barisan kirab, mengaku sudah menantikan momen ini sejak jauh hari. “Dari kecil saya sudah lihat kirab, tapi tiap tahun rasanya beda. Tahun ini lebih ramai dan lebih percaya diri karena banyak yang pakai kostum dan berani tampil,” ujarnya di sela-sela perjalanan.

Menurut Nisa, Kirab Budaya bukan sekadar arak-arakan. Ia melihatnya sebagai cara remaja menunjukkan bahwa tradisi kampung tetap relevan. “Kami ingin orang tahu kalau Bustaman punya budaya dan anak mudanya mau terlibat. Capek sih, tapi senang banget bisa jalan bareng teman-teman dan warga,” katanya sambil tersenyum.

Sepanjang MT Haryono, perhatian pengguna jalan tertuju pada rombongan kirab. Beberapa pengendara memperlambat laju kendaraan, ada pula yang berhenti untuk merekam suasana. Petasan kecil sesekali dinyalakan sebagai penanda kemeriahan, sementara musik tradisional dan tabuhan ritmis menciptakan atmosfer yang hidup.

perwakilan dari Kolektif Hysteria, Khansa, yang turut mendampingi proses kreatif Gebyuran Bustaman 2026, menjelaskan bahwa Kirab Budaya merupakan ruang ekspresi warga. “Kirab ini bukan sekadar tontonan. Ini adalah pernyataan bahwa kampung punya identitas dan ingin merayakannya di ruang publik,” ujarnya.

Menurut Khansa, keterlibatan warga menjadi kunci utama. Ia menyebut, sejak tahap perencanaan, warga—terutama remaja—ikut menyusun konsep kostum, rute, hingga teknis di lapangan. “Kami hanya mendampingi dan membantu penguatan konsep. Energi utamanya tetap dari warga sendiri,” katanya.

Kirab Budaya juga menjadi jembatan antar-generasi. Anak-anak yang baru pertama kali ikut terlihat berjalan dengan penuh rasa ingin tahu, sementara orang tua memastikan barisan tetap tertib. Di beberapa titik, warga yang tidak ikut kirab berdiri di pinggir jalan memberikan dukungan.

Khansa menambahkan, memilih MT Haryono hingga Pekojan sebagai rute bukan tanpa alasan. “Kami ingin kirab ini terlihat, bukan hanya berputar di dalam kampung. Dengan melintas di jalan utama, pesan tentang kebudayaan Bustaman bisa menjangkau lebih luas,” jelasnya.

Meski jalanan basah dan udara malam cukup lembap, semangat peserta tak surut. Cahaya lampu kendaraan dan sorot papan reklame menjadi latar dramatis bagi barisan warga yang berjalan kompak. Beberapa peserta bahkan tetap menari kecil sepanjang perjalanan.

Bagi Nisa, momen paling berkesan adalah ketika rombongan memasuki Pekojan dan melihat banyak orang memperhatikan kirab. “Deg-degan tapi bangga. Rasanya kayak lagi bawa nama kampung,” tuturnya.

Kirab Budaya ini menjadi salah satu rangkaian penting dalam Gebyuran Bustaman 2026, tradisi tahunan warga untuk menyambut Ramadan. Selain sebagai bentuk perayaan, kirab juga menjadi simbol kebersamaan dan pernyataan bahwa budaya kampung tetap hidup di tengah kota.

Malam itu, di antara gemerlap lampu kota dan langkah yang terus bergerak, Kirab Budaya Bustaman bukan hanya perjalanan dari MT Haryono ke Pekojan dan kembali ke kampung. Ia menjadi perjalanan kolektif warga dalam merawat ingatan, memperkuat identitas, dan menegaskan bahwa tradisi tetap punya tempat di ruang publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....