Batang Wacanakan Tradisi Mubeng Benteng Malam Satu Suro Jadi Ikon Wisata Budaya

  • 17 Jun 2026 09:20 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Batang – Tradisi Mubeng Benteng pada peringatan Malam Satu Suro di Kabupaten Batang diwacanakan menjadi destinasi wisata budaya yang digelar lebih terbuka bagi masyarakat. Prosesi kirab Kyai Tombak Abirawa pun direncanakan kembali melintasi ruas jalan di pusat kota seperti yang pernah dilakukan pada masa lampau.

Wacana tersebut disampaikan keluarga besar ahli waris Kyai Tombak Abirawa usai pelaksanaan kirab Malam Satu Suro 1960 Tahun Jawa. Upaya tersebut dinilai penting sebagai bentuk pelestarian tradisi leluhur sekaligus memperkuat identitas budaya Kabupaten Batang.

Ahli waris Pusaka Kyai Tombak Abirawa, R. Susanto Waluyo, mengatakan, saat ini, tradisi Mubeng Benteng masih dilaksanakan dengan mengelilingi area dalam kompleks Kantor Bupati Batang. Ke depan, pihaknya berharap prosesi dapat kembali digelar di luar kawasan pendapa setelah melalui koordinasi dengan berbagai pihak terkait.

"Saat ini 'Mubeng Benteng' satu kali hanya di dalam komplek, yakni dengan mengelilingi area kantor Setda saja. Ke depan dengan berkoordinasi bersama dinas terkait, tradisi tersebut akan dilakukan di luar area Kantor Bupati," bebernya saat ditemui di Kompleks Kantor Bupati Batang, Rabu, 17 Juni 2026.

Menurutnya, tradisi tersebut sebelumnya telah rutin dilakukan oleh para pendahulu, sehingga diperlukan persiapan matang agar pelaksanaannya sesuai dengan nilai-nilai yang diwariskan leluhur. "Jika terealisasi, Malam Satu Suro tahun depan, prosesi kirab Kyai Tombak Abirawa akan melewati rute Jalan Kartini - A Yani - Ahmad Dahlan - Brigjen Katamso dan kembali ke Jalan Kartini atau Pendapa Kabupaten," ujarnya.

Susanto menilai tradisi Mubeng Benteng memiliki manfaat besar, baik dari sisi pelestarian budaya maupun pengembangan sektor pariwisata. Menurutnya, tradisi tersebut dapat menjadi ciri khas Kabupaten Batang setiap momentum Tahun Baru Islam.

"Mubeng Benteng di luar komplek Kantor Bupati itu, biar masyarakat itu makin mengenal tradisi leluhur pendiri Batang. Apalagi jika dikolaborasikan dengan destinasi wisata budaya, tentu menjadi ciri khas tiap momentum Satu Muharam atau Malam Satu Suro, ada tradisi tersebut," katanya.

Dukungan terhadap wacana tersebut juga disampaikan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan(Disdikbud) Kabupaten Batang, Bambang Suryantoro Sudibyo. Meski demikian, menurutnya pelaksanaan kirab harus dipersiapkan secara matang agar tetap sesuai paugeran leluhur sekaligus aman bagi masyarakat.

"Karena pelaksanaannya malam penataan lebih intensif, mulai dari peserta kirab, rute hingga lalu lintas dan kondisi keamanan karena nantinya akan ada banyak warga dan penonton. Jika tahun depan dimungkinkan, tentu persiapannya harus dilakukan lebih awal, karena butuh persiapan yang matang," ujarnya.

Bambang menambahkan, apabila tradisi Mubeng Benteng benar-benar digelar di luar pendapa, pengamanan perlu menjadi perhatian utama. Selain menjaga keselamatan peserta dan masyarakat, langkah tersebut juga penting untuk mempertahankan kesakralan prosesi Malam Satu Suro.

"Kalau biasanya kirab budaya dilakukan siang hari, tentu berbeda pengamanannya pun berbeda ketika kirab di malam hari. Pengamanan harus ekstra karena demi menjaga kesakralan tradisi Malam Satu Suro," ucapnya.

Pihak Disdikbud Batang berencana menjalin komunikasi lebih intensif dengan ahli waris serta meminta persetujuan Bupati Batang untuk merealisasikan wacana tersebut. "Melalui kirab 'Mubeng Benteng' Malam Satu Suro nantinya generasi muda Batang makin mengenal adat dan tradisi leluhurnya,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....