Esensi Tradisi Buka Bersama

  • 02 Mar 2026 21:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Tradisi buka bersama atau yang akrab disebut “bukber” telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Ramadan di Indonesia. Praktik ini tidak hanya sekadar makan setelah azan Maghrib, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi.

Di Indonesia, Ramadan dirayakan mayoritas umat Muslim yang jumlahnya terbesar di dunia, dan buka bersama menjadi ekspresi sosial. Masjid, rumah, sekolah, kantor, hingga restoran ramai menggelar acara bukber sepanjang bulan suci.

Secara historis, tradisi berbuka puasa sendiri merujuk pada anjuran dalam ajaran Islam untuk segera membatalkan puasa saat Maghrib tiba. Nabi Muhammad SAW menganjurkan berbuka dengan kurma dan air sebagai bentuk kesederhanaan.

Di berbagai daerah, bukber juga dipadukan dengan kearifan lokal. Di wilayah Jawa misalnya, tradisi “ngabuburit” dilakukan menjelang berbuka dengan kegiatan religi maupun rekreasi ringan.

Buka bersama juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Banyak komunitas dan organisasi memanfaatkannya untuk berbagi dengan anak yatim dan kaum dhuafa.

Dalam konteks modern, fenomena bukber turut berdampak pada sektor ekonomi. Industri kuliner mengalami peningkatan permintaan signifikan selama Ramadan.

Banyak pelaku UMKM hingga jaringan restoran besar menawarkan paket khusus buka bersama. Hal ini mencerminkan bahwa tradisi ini juga mendorong perputaran ekonomi lokal.

Meski demikian, esensi buka bersama tetap terletak pada nilai spiritual dan sosialnya. Momentum ini menjadi ajang mempererat hubungan yang mungkin renggang karena kesibukan.

Namun, para tokoh agama kerap mengingatkan agar tradisi ini tidak bergeser menjadi ajang konsumtif berlebihan. Nilai kesederhanaan, empati, dan kepedulian sosial tetap menjadi ruh utama Ramadan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....