Waspada Tanah Bergerak, Kenali Fenomena Creeping
- 11 Feb 2026 09:02 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Bencana tanah bergerak melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Peristiwa tersebut dipicu oleh fenomena geologi yang dikenal sebagai creeping atau rayapan tanah.
Dalam kajian geologi yang dipublikasikan dalam Jurnal Geologi Indonesia, rayapan tanah dikategorikan sebagai salah satu bentuk gerakan massa tanah yang berlangsung sangat lambat namun terus-menerus. Fenomena ini umumnya terjadi pada lereng dengan kemiringan tertentu dan area yang cukup luas.
Penelitian Surono dalam Jurnal Sumber Daya Geologi menjelaskan bahwa struktur tanah yang didominasi lempung atau clay memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan kadar air. Jenis tanah tersebut mudah mengalami deformasi ketika jenuh air dalam waktu lama.
| Baca juga: Mengenal Istilah Bed Rotting |
Pada kondisi curah hujan tinggi, air meresap ke dalam lapisan tanah dan meningkatkan kadar kelembapan. Menurut studi dalam Jurnal Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada, infiltrasi air berlebih dapat menurunkan kekuatan geser tanah dan memicu pergerakan perlahan pada lereng.
Fenomena creeping berbeda dengan likuifaksi yang umumnya terjadi di lahan datar akibat getaran gempa dan perubahan tekanan pori tanah. Rayapan tanah hampir selalu ditemukan di daerah berkontur miring dengan proses pergerakan yang berlangsung bertahap.
Upaya penanggulangan dapat dimulai melalui mitigasi dini dan pemetaan wilayah rawan gerakan tanah. Penelitian Pusat Studi Bencana Alam dalam Jurnal Kebencanaan Indonesia menekankan pentingnya identifikasi tanda awal seperti retakan tanah memanjang, tiang atau pagar yang miring, serta perubahan elevasi permukaan tanah.
Penataan lingkungan menjadi langkah penting dalam mencegah risiko rayapan tanah. Kajian dalam Jurnal Teknik Lingkungan menyebut sistem drainase yang baik, terasering pada lereng, serta pembatasan pembangunan di zona rawan mampu mengurangi tekanan air pada lapisan tanah.
Vegetasi dengan akar kuat juga berperan dalam menjaga stabilitas lereng. Studi dalam Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Universitas Brawijaya menunjukkan bahwa penanaman pohon dan tanaman penutup tanah dapat memperkuat struktur tanah sekaligus mengurangi infiltrasi air berlebih.
Selain upaya teknis, edukasi dan kesiapsiagaan masyarakat juga menjadi faktor penting. Penelitian dalam Jurnal Manajemen Bencana Universitas Indonesia menyebut kesadaran kolektif warga dalam mengenali gejala awal dan merawat lingkungan lereng dapat menekan risiko kerusakan lebih luas.
Dengan mitigasi yang tepat, pengelolaan lingkungan berkelanjutan, dan peningkatan kewaspadaan masyarakat, risiko bencana rayapan tanah dapat ditekan sejak dini. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menghadapi fenomena ini. (cel)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....