Kota Tangguh Bencana Diawali Kepekaan, Kesiapsiaagaan Warga Jadi Bagian Penting

  • 07 Okt 2026 09:54 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kesiapsiagaan masyarakat dinilai menjadi bagian yang cukup penting, dalam membangun kota yang tangguh menghadapi bencana. Pemahaman terhadap risiko dan kepekaan terhadap tanda-tanda bencana, perlu dibangun sebelum masyarakat menghadapi situasi darurat.

Pegiat kemanusiaan, Syukur Hamdan Damayadi Limbong menyebut, konsep kota tangguh bencana lebih dititikberatkan pada sebelum dan sesudah bencana terjadi. Selama ini, resiko terkait bencana dianggap oleh banyak orang sebagai sebuah hal yang biasa terjadi.

“Di salah satu daerah di Sumatera misalnya, awalnya kan banjir, tapi karena di sana udah terbiasa memang ada genangan air masyarakat itu udah biasa aja akhirnya datanglah banjir. Jadi menurut aku hal-hal kayak gitu tuh hal kecil yang penting, itu yang bisa kita simpulkan kota itu tangguh bencana atau nggak,” ucapnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Rabu, 30 September 2026.

Setiap daerah di Indonesia bisa dibilang cukup berpotensi mengalami bencana, sehingga menjadi sebuah tantangan tersendiri. Menurut Hamdan, baik secara individu ataupun lebih luasnya lagi memiliki tantangan masing-masing dalam membentuk kota yang tangguh bencana.

“Contoh individu itu pasti terkait dengan bagaimana mengakses informasi, masyarakat bagaimana bersosialisasi atau berkegiatan sehari-hari. Komunitas bagaimana cara mengedukasi dan lain-lain, kalau pemerintah bagaimana membuat kebijakan dan lain-lain,” katanya.

Semarang dipandang Hamdan secara kebencanaan cukup unik, karena letaknya yang berada di pesisir dan terbilang akrab dengan potensi banjir atau rob. Namun, secara data, salah satu bencana yang berpotensi terjadi dan beberapa kali terjadi juga adalah tanah longsor yang juga perlu untuk diwaspadai.

“Jadi kayak jangan gara-gara kotanya pesisir, oh masyarakat udah tahu paling nanti banjir atau rob (ternyata) bisa longsor loh. Jadi tantangan masyarakat sekarang adalah kevalidan informasi, pemahaman terkait isu bencana yang ada, dan jangan pernah menganggap sepele tanda-tanda kecil yang terkait perubahan iklim dan lain-lain,” ungkap Hamdan.

Hamdan menilai jika dibandingkan negara lain, masyarakat Indonesia saat ini masih belum terlalu siap untuk menghadapi bencana. Ia berpendapat, salah satu yang dapat dilihat adalah respon masyarakat ketika terjadi bencana yang lebih sering mengalami kepanikan.

“Memang mungkin dari segi kayak kita punya BPBD, kita punya SAR, kita mungkin punya beberapa komunitas yang berkaitan dengan tanggap bencana. Itu kan baru tanggapnya tapi sebelum bencananya udah atau nggak, jadi yang perlu kita pakemin itu bagimana kesiapan kita pra bencana, saat bencana, dan pasca bencana,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....