Sekolah Konservasi Jadi Upaya Edukasi Mitigasi Bencana di Desa Keji Ungaran Barat

  • 16 Sep 2026 07:05 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan(PPK Ormawa) Penal Study Club(PSC) Fakultas Hukum Universitas Negeri Semarang(Unnes) memberikan edukasi mitigasi bencana kepada masyarakat Desa Keji. Kegiatan tersebut dilakukan melalui Sekolah Konservasi dan Tangguh Bencana sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat di lingkungan rawan bencana.

Menurut anggota PPK Ormawa PSC FH Unnes 2026, Kamal, kegiatan ini adalah bagian dari program Kemendiktisaintek yang berfokus pada pengabdian masyarakat. Mereka memilih kegiatan Sekolah Konservasi dan Tangguh Bencana, yang mereka lakukan di Desa Keji, Ungaran Barat belum lama ini.

“Itu adalah sekolah non formal, yang pesertanya adalah masyarakat setempat. Berfokus pada mitigasi bencana dan pemulihan ekonomi pasca bencana, terus terkait juga dengan inovasi berupa IoT SKEWS,” jelasnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Rabu, 9 September 2026.

Meskipun mereka berasal dari Fakultas Hukum, namun mereka memiliki ketertarikan tersendiri terhadap isu kebencanaan. Apalagi menurut Intan yang merupakan salah satu anggota tim tersebut, letak kampus mereka yang cukup dekat dengan lokasi rawan bencana longsor membuat mereka ingin memberikan edukasi untuk masyarakat sekitar.

“Kita jadi berfokus pada desa yang dekat dengan kita, di kaki Ungaran Barat itu memang banyak desa yang rawan dengan bencana longsor. Yaudah kita fokuskan aja kepada konservasi tangguh bencana, supaya kita bisa mengabdi pada desa yang memang sudah pernah terjadi bencana longsor dan rawan banget bencana longsor,” ujarnya.

Sementara menurut Nazwa yang juga tergabung dalam tim, keterlibatan mereka dalam kegiatan tersebut juga menambah pengalaman mereka. Terutama dari sisi pengabdian masyarakat yang mereka lakukan, karena dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat yang ada di Desa Keji.

“Kami juga di PPK Ormawa banyak mendapat pengalaman, tentunya dari mulai bertemu warga. Karena warga juga beda-beda sifatnya, kita harus beradaptasi dengan mereka dan harus berinteraksi dan sebagainya,” ucapnya.

Kamal menceritakan bahwa selain rawan dan pernah dilanda longsor, desa tersebut secara vegetasi lerengnya cukup curam. Akhirnya setelah beraudiensi dan mengadakan forum dengan masyarakat setempat, mereka dapat memetakan masalah dan kebutuhan dari masyarakat setempat.

“Oleh karena itu terbentuk beberapa program kami, pertama ada Sekolah Konservasi dan Tangguh Bencana. Selain daripada itu, kami memang memiliki program green over village yang terkait dengan penanaman pohon untuk menjaga kestabilan tanah dari Desa Keji itu sendiri,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....