Cegah Konflik Keagamaan, Generasi Muda Perlu Cermat Saring Informasi
- 22 Sep 2026 09:30 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Generasi muda perlu memiliki kepekaan terhadap potensi konflik keagamaan, tanpa mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar. Memeriksa sumber informasi dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, dapat membantu mencegah kesalahpahaman di lingkup masyarakat.
Mahasiswa Studi Agama-Agama UIN Walisongo Semarang, Putri Azmi Fauziah menyebut generasi muda harus peka terhadap potensi konflik keagamaan. Sebagai generasi yang akrab dengan media sosial, menurutnya harus ada kepekaan yang dimiliki namun tetap terkontrol agar tidak menjadi kecurigaan.
“Jadi ketika kita melihat sesuatu yang mencurigakan, jangan langsung mengatakan misal ‘oh ternyata seperti ini ya’. Kita kan perlu mencari informasi lebih dahulu, melihat sumbernya dimana dan mencoba melihat dari berbagai sudut pandang,” ujarnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 15 September 2026.
Agar hal tersebut tidak menjadi konflik yang destruktif, Putri menekankan untuk menghindari sikap terprovokasi. Menurutnya dengan tidak bersikap yang memperkeruh keadaan, seseorang dapat dengan lebih jernih mencari tahu letak permasalahannya.
“Kalau memang memungkinkan, dari pihak-pihak yang terlibat bisa bicara dengan baik-baik. Misalnya ada kesalahpahaman antara dua kelompok, daripada saling runding di Instagram atau WhatsApp lebih baik ada pertemuan untuk membicarkaan masalahnya secara langsung,” jelasnya.
Hal tersebut dapat dilihat dari seberapa besar konflik yang muncul, dan jika memungkinkan diperlukan adanya mediator dalam pertemuan. Putri menyebut mediator dapat dilakukan oleh pihak yang lebih berwenang, semisal dosen atau tokoh keagamaan yang semestinya jadi penengah.
“Menurut saya ya memang sangat penting, banyak konflik sebenarnya muncul karena orang tidak pernah benar-benar berkomunikasi dengan kelompok berbeda. Kadang kan kita punya anggapan terhadap kelompok lain dari yang kita dengar, tetapi kalau kita bertemu dan berbicara langsung ternyata biasa saja dan banyak hal yang bisa kita pahami bersama,” kata Putri.
Memiliki sikap saling toleran antar umat dan saling menghormati, dipandang Putri dapat menjadi fondasi dalam menerima perbedaan. Hal itu dapat membuat seseorang tidak mudah merendahkan terhadap agama atau kelompok lainnya, yang bisa dimulai dari sikap sederhana.
“Sedangkan anti-kekerasan mengajarkan bahwa kalau ada masalah, penyelesaiannya bukan dengan kekerasan. Contohnya di lingkungan tempat tinggal kita memiliki tetangga dan sedang menjalankan ibadah, kita harus menghargai dan tidak boleh mengganggu begitu pula sebaliknya,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....