Bentuk Tanggung Jawab Moral, Ekoteologi Dorong Manusia Menjaga Alam

  • 08 Sep 2026 08:23 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Persoalan lingkungan dinilai tidak hanya berkaitan dengan fenomena alam, tetapi juga tanggung jawab moral manusia dalam menjaga bumi. Perspektif ekoteologi menempatkan manusia sebagai penjaga alam yang perlu memanfaatkan sumber daya secara bijak tanpa mengabaikan kebutuhan generasi mendatang.

Menurut Kepala Departemen Ekonomi Kreatif Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Universitas Negeri Semarang, Irsyad Zidan Arrifqi, ekoteologi dimaknai sebagai melihat masalah lingkungan dari perspektif keagamaan. Hal tersebut karena antara Tuhan, manusia, dan alam memiliki hubungan yang saling terkait satu sama lain secara konseptual.

“Karena Allah adalah pencipta, manusia adalah makhluk sekaligus khalifah ataupun pemimpin sedangkan alam adalah ciptaan Allah yang memiliki nilai dan fungsi. Kita sebagai penjaga alam di muka bumi ini, jadi harusnya sebagai manusia kita menjaga ciptaan Allah dengan baik dan bukan malah merusaknya atau menghabiskan untuk keserakahan kita sendiri,” jelasnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 1 September 2026.

Pandangan tersebut juga berlaku bagi seluruh agama yang ada, karena dalam setiap ajaran agama selalu menekankan untuk menjaga lingkungan bersama-sama. Irsyad berpendapat bahwa hal itu bukan tanggung jawab segelintir orang, sehingga dalam ajaran agama selalu diajarkan perilaku untuk menjaga lingkungan.

“Disini konteksnya adalah manusia memang diberikan hak untuk memanfaatkan atau menggunakan alam, karena Tuhan sendiri menciptakan alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Yang perlu digarisbawahi adalah manusia bukan pemilik absolut alam, namun manusia hanya diberikan kecukupan dari Tuhan untuk menjaga alam dan memenuhi kebutuhan secukupnya,” katanya.

Irsyad juga menyebut jika dalam Islam terdapat sifat amanah, sehingga manusia punya tanggung jawab untuk menjaga bumi sebagai ciptaan. Pemanfaatan sumber daya yang dimiliki diperbolehkan, namun dalam taraf yang wajar dan tanpa melupakan bahwa hal tersebut masih akan dinikmati oleh generasi seterusnya.

“Kita yakin bahwasannya alam diciptakan juga untuk generasi setelah kita, agar nanti bisa merasakan keindahan dan kemaslahatan alam. Tapi kalau kita terlalu serakah dan mengeksploitasi, akhirnya takutnya generasi setelah ini tidak dapat merasakan keindahan alam padahal Tuhan sudah menciptakan sebaik mungkin,” ujarnya.

Terjadinya berbagai bencana saat ini seperti kebakaran hutan hingga banjir, dari sudut pandang ekoteologi juga berkaitan dengan masalah moral dan keagamaan. Menurut Irsyad, kita tidak bisa serta merta menganggap semua bencana sebagai fenomena alam semata tanpa mengabaikan faktor manusia.

“Kita harus garis lebih jauh, kira-kira mengapa fenomena alam ini bisa terjadi. Apakah murni fenomena alam itu saja, atau karena ulah manusia itu sendiri,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....