Kebebasan Beragama Perlu Diiringi Tanggung Jawab Menghormati Hak Orang Lain

  • 25 Agt 2026 09:45 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Kebebasan beragama dinilai tidak hanya berkaitan dengan hak menjalankan keyakinan, tetapi juga tanggung jawab menghormati hak orang lain. Sikap tersebut semakin penting diterapkan di media sosial, agar perbedaan keyakinan tidak memicu diskriminasi maupun penyebaran konten yang menyudutkan kelompok tertentu.

Komite Nasional Ahmadiyya Muslim Women Students Association(AMSAW) Indonesia, Wizi Mega Lestari, S. Sos menyebut aspek penting dalam menghormati kebebasan beragama adalah memahami bahwa itu dimiliki setiap orang. Dengan demikian, seseorang bukan hanya memperhatikan kebebasan dirinya sendiri, namun juga menghormati hak beribadah yang ada pada orang lain.

“Jangan sampai karena kita ngerasa keyakinan kita paling bener, kemudian kita ngerasa berhak untuk mengatur atau membatasi orang lain. Perbedaan seharusnya tidak harus membuat kita menjauh, kita tetap bisa berteman atau bekerja sama tanpa harus menyamakan keyakinan,” ucap Wizi dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 18 Agustus 2026.

Kebebasan beragama tidak berarti berhak melakukan apapun atas nama agama, lantaran seseorang harus bisa menghargai hak yang dimiliki. Wizi menyebut bahwa menghormati bukan berarti mengikuti atau mnyetujui keyakinan orang lain, namun menghargai hak asasi sebagai manusia untuk beribadah.

“Kebebasan bukan berarti tanpa batas, kita memang punya kebebasan untuk menjalankan agama. Kebebasan itu tidak boleh digunakan untuk merampas hak orang lain, melakukan kekerasan atau diskriminasi, dan memaksakan keyakinan pada orang lain,” jelas Wizi.

Wizi menekankan, kebebasan beragama dan beribadah yang dimiliki seseorang, juga harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga hak orang lain. Salah satunya dalam bersikap di media sosial terutama dalam hal konten berbau agama, yang disebutnya juga menjadi salah satu tantangan saat ini.

“Kadang kita melihat satu konten yang menyudutkan kelompok tertentu, kemudian langsung percaya atau bahkan ikut menyebarkan. Padahal kalau kita terus-terusan melihat konten tersebut, lama-lama bisa membentuk cara pandang kita terhadap kelompok lain,” ucapnya.

Literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dirasa menjadi cara tepat bagi anak muda, untuk bisa tetap menghargai kebebasan beragama lewat media sosial. Tantangan lainnya menurut Wizi, adalah kecenderungan orang untuk hidup dengan orang-orang yang sepemikiran.

“Kita cenderung mengikuti akun yang pendapatnya sama dengan kita, akhirnya kita jarang melihat perspektif yang berbeda. Padahal menurut saya toleransi justru muncul ketika kita mau mengenal sesuatu yang berbeda, bukan ketika kita hanya berinteraksi dengan orang yang sama dengan kita,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....