Kunker ke Semarang, Komisi VII Ingin Produsen Kopi Terus Bersaing
- 04 Sep 2026 19:26 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID,Semarang - Komisi VII DPR RI mendorong produsen kopi di Indonesia untuk terus berkontribusi di tingkat global. Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty saat kunjungan kerja spesifik Komisi VII DPR RI ke PT Santos Jaya Abadi Semarang di Kawasan Industri Candi, Semarang, Jumat, 4 September 2026.
Menurutnya, PT Santos Jaya Abadi yang memproduksi Kopi Kapal Api ini hadir sebagai salah satu pelaku industri hilir kopi olahan terbesar di Indonesia. Perusahaan itu mengolah biji kopi menjadi produk bernilai tambah seperti kopi sangrai, kopi instan dan minuman siap saji.
Meskipun sebagian produksi kopi Indonesia masih di impor dalam bentuk biji mentah, namun kata dia, Indonesia menduduki peringkat ke empat di dunia untuk kontribusi produksi kopi. "Kunjungan kerja hari ini kami arahkan khusus ke PT Santos Jaya Abadi mengingat posisi Indonesia sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia dengan kontribusi sekitar 7% dari total produksi kopi dunia yang sebagian besar dikelola oleh perkebunan rakyat," katanya.
PT Santos Jaya Abadi, kata Evita, telah menguasai 60% segmentasi market di Indonesia. Bahkan perusahaan tersebut telah bertahan sekitar 100 tahun dan kini dikelola generasi kedua.
"Jadi apa yang dijalankan oleh Kapal Api ini ya, proses hilirisasi kopi. Sejauh mana ketahanan pasokan bahan baku biji kopi dijaga. Saya rasa ini semua dijalani ya, penerapan mutu kalau tidak tidak bertahan selama 100 tahun," ujarnya.
Evita juga menyebut bahwa hilirisasi selalu ditekankan oleh Presiden Prabowo. Untuk itu, pengolahan produsen kopi menjadi salah satu percontohan jika bahan baku yang dipergunakan mayoritas bisa berasal dari dalam negeri meskipun perusahaan melakukan ekspor.
"Dalam pidatonya presiden itu dikatakan selalu menyebut hilirisasi. Nah, percontohan pengolahan kopi ini yang memang bisa apa dijadikan hilirisasi seperti Kapal Api ini bisa menjadi contoh, ya kan bahwa memang bahan bakunya itu yang bisa dipergunakan mayoritas itu dari dalam negeri. Dan orientasinya ekspor dan nanti ke depan juga tidak impor.
Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan jika kopi di setiap daerah memiliki jenis biji kopi yang berbeda. Bahkan di dalam indikasi geografi sudah ada 60 jenis kopi yang dikembangkan.
Menurutnya, hal ini menjadi dasar untuk mengembangkan kopi di daerah yang jauh dari perkotaan. Sehingga bisa menggerakan perekonomian kerakyataan.
"Indonesia itu sangat kaya dengan yang namanya kopi specialty dan kita masing-masing di daerah itu sangat berbeda. Jadi ada namanya indikasi geografis dan kita sudah 60-an lebih mempunyai itu. Nah, ini adalah modal dasar ya yang bisa kita kembangkan dan mengembangkan kopi itu sama dengan mengembangkan daerah-daerah yang jauh dari kota," ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....