Sumber Pangan Lokal Jateng Melimpah, Harga Jadi Tantangan Diversifikasi
- 25 Agt 2026 05:08 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Jawa Tengah memiliki beragam sumber pangan lokal yang berpotensi dikembangkan sebagai alternatif bahan pangan masyarakat. Namun, diversifikasi pangan dinilai tidak cukup hanya dengan memperkenalkan produk baru, karena harga dan penerimaan konsumen menjadi faktor penting.
Dosen Teknologi Pangan Soegijapranata Catholic University (SCU), Dr. Ir. Christiana Retnaningsih, MP mengatakan Jawa Tengah memiliki potensi besar karena dikenal sebagai salah satu lumbung pangan. Potensi tersebut antara lain berasal dari singkong, ubi jalar, talas, jagung, koro, sukun, hingga pisang.
Menurutnya, sumber karbohidrat masyarakat tidak harus selalu bergantung pada beras. Berbagai komoditas lokal dapat diolah menjadi produk pangan alternatif, seperti sukun yang dapat dijadikan tepung, cake, hingga beras analog melalui proses ekstrusi.
“Jawa Tengah ini lumbungnya pangan. Harapannya, pertama, orang punya mindset yang berbeda,” kata Christiana dalam dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Senin, 24 Agustus 2026.
Christiana juga menyebut sumber protein nabati dapat diperoleh dari berbagai jenis kacang-kacangan, termasuk koro. Sementara sumber protein hewani juga tidak hanya berasal dari daging, tetapi dapat memanfaatkan ikan dan telur yang relatif mudah diperoleh masyarakat.
Meski memiliki potensi besar, harga pangan alternatif menjadi salah satu tantangan dalam diversifikasi pangan. Oleh karena itu, pengembangan pangan lokal harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat untuk membeli produk tersebut.
Menurut Christiana, produk pangan alternatif akan sulit diterima jika harganya justru lebih mahal dibandingkan pangan yang selama ini sudah familiar dikonsumsi masyarakat. “Kalau harganya mahal kan tentu tidak mau,” ujarnya
Ia mencontohkan produk tiwul instan yang dapat menjadi alternatif pangan pokok selain beras. Namun, jika harga tiwul instan berada di kisaran yang sama atau lebih mahal dari beras, masyarakat cenderung tetap memilih beras karena lebih familiar dan mudah diolah.
Inovasi pangan lokal, menurut Christiana, perlu memperhatikan aspek penerimaan konsumen, termasuk rasa, bentuk produk, cara pengolahan, hingga harga. Peneliti juga perlu melibatkan masyarakat sejak proses pengembangan agar produk yang dihasilkan benar-benar sesuai kebutuhan.
“Masyarakat itu ditempatkan sebagai subjek, tidak hanya objek. Namun, diajak berdiskusi,” ucap Christiana.
Dengan pendekatan tersebut, pangan lokal Jawa Tengah diharapkan tidak hanya menjadi alternatif sesaat, tetapi mampu berkembang menjadi produk yang diterima pasar dan memiliki nilai tambah. Diversifikasi pangan pun dapat berjalan lebih kuat dengan memanfaatkan kekayaan komoditas lokal sekaligus mempertimbangkan daya beli dan kebiasaan konsumsi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....