Bauran Energi Terbarukan Jateng Lampaui Target, Pemprov Dorong Pemerataan

  • 12 Agt 2026 19:08 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Jawa Tengah mencapai bauran energi baru dan terbarukan sebesar 22,33 persen pada 2025, melebihi target RUED yang ditetapkan sebesar 21,32 persen.
  • Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menekankan bahwa pengembangan energi terbarukan harus memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.
  • Capaian ini menjadi dasar untuk memperluas pemanfaatan energi hijau secara merata ke seluruh wilayah Jawa Tengah dan mendukung ketahanan energi nasional.

RRI.CO.ID, Semarang - Jawa Tengah mencatat capaian bauran energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 22,33 persen pada 2025, melampaui target Rencana Umum Energi Daerah (RUED) yang ditetapkan sebesar 21,32 persen. Capaian itu kini menjadi modal untuk memperluas pemanfaatan energi hijau secara merata di seluruh wilayah.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menegaskan, pengembangan energi terbarukan harus dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh masyarakat. \Hal itu disampaikannya saat Sosialisasi 4 Pilar MPR RI bertema Penguatan Ketahanan Energi Nasional di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Rabu 12 Agustus 2026.

Selain memperkuat ketahanan energi, pemerataan EBT juga diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan warga. “Kami butuh energi terbarukan itu benar-benar bisa merata di Jawa Tengah. Kita butuh ekosistem di Jawa Tengah tumbuh tapi tidak merusak lingkungan,” kata Taj Yasin.

Menurut pria yang akrab disapa Gus Yasin itu, pengembangan energi terbarukan tidak cukup hanya berfokus pada ketersediaan sumber energi. Aspek keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat sekitar juga harus menjadi perhatian utama.

Ia menjelaskan, Jawa Tengah saat ini menjadi salah satu tujuan investasi yang terus berkembang. Oleh karena itu, kebutuhan energi harus dipenuhi tanpa mengorbankan kualitas lingkungan maupun ruang hidup masyarakat.

Capaian bauran EBT yang melampaui target menunjukkan potensi besar energi terbarukan di Jawa Tengah. Potensi tersebut meliputi energi surya, panas bumi, hidro, biomassa, hingga biogas yang tersebar di berbagai daerah.

Pemprov Jawa Tengah terus mendorong pengembangan berbagai proyek energi hijau untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat. Program yang dijalankan antara lain pembangunan PLTS, PLTS terapung, panas bumi, PLTM dan PLTMH, serta energi berbasis limbah dan biomassa.

Pemanfaatan energi lokal juga diperkuat melalui program Desa Mandiri Energi dan penggunaan pompa air tenaga surya untuk irigasi pertanian. Selain itu, biogas dari limbah peternakan dan industri kecil serta Eco Pesantren berbasis PLTS dan biogas terus dikembangkan.

Menurut Gus Yasin, pengembangan EBT tidak hanya bertujuan menambah pasokan energi. Langkah tersebut juga diharapkan mampu membuka peluang investasi, meningkatkan daya saing industri, menciptakan lapangan kerja, dan menggerakkan ekonomi masyarakat.

Upaya itu menjadi semakin penting di tengah tantangan ketahanan energi nasional yang masih bergantung pada impor energi. Penguatan energi lokal dinilai menjadi salah satu solusi untuk mengurangi ketergantungan tersebut.

Sementara, Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno mengatakan Indonesia memiliki sumber energi fosil dan energi terbarukan yang melimpah. Namun, pemanfaatannya masih perlu dioptimalkan agar ketergantungan terhadap energi impor dapat dikurangi.

Menurutnya, percepatan pengembangan energi surya, angin, air, dan panas bumi menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Pengembangan EBT juga sejalan dengan upaya mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan.

“Kita tingkatkan sumber energi terbarukan supaya kita punya pembangunan berkelanjutan. Tidak merusak lingkungan, seperti yang disampaikan Pak Wagub,” ujarnya.

Eddy menilai, pemanfaatan sumber energi terbarukan yang tersebar di seluruh Indonesia dapat menjadi fondasi kemandirian energi nasional. Dengan pengembangan yang optimal, Indonesia berpeluang mengurangi bahkan menghentikan ketergantungan pada energi impor.

“Kalau kita kembangkan sumber-sumber energi terbarukan yang ada di seluruh Indonesia, rasanya kita enggak perlu impor lagi. Rasanya ketahanan energi kita bisa kita kuatkan,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....