Metode AAIA Bantu Masyarakat Tetap Tenang dan Sadar Saat Bencana

  • 19 Agt 2026 09:30 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Dalam menghadapi situasi darurat saat bencana, masyarakat dapat menerapkan metode AAIA, yakni Ambil napas, Amati sekitar, Ingat-ingat pesan mitigasi, dan Ambil tindakan atau aksi. Metode tersebut dinilai dapat membantu seseorang tetap tenang, sadar terhadap kondisi sekitar, dan mengambil keputusan secara tepat ketika bencana terjadi secara tiba-tiba.

Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi(FIPP) Universitas Negeri Semarang (Unnes), Liftiah, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog, mengatakan keempat langkah tersebut perlu dilakukan secara cepat. Sebab, kondisi bencana dapat memicu kepanikan dan membuat seseorang sulit berpikir jernih.

“Kita ambil napas dan tahan lalu hembuskan, sambil kita memotivasi diri atau melakukan self-talk. Kemudian, amati kondisi sekitar supaya kita tetap sadar dengan kondisi sekitar, serta mengingat-ingat pengetahuan apa atau cara-cara yang diberikan ketika ada bencana,” ujarnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurut Liftiah, langkah pertama dalam metode AAIA adalah mengambil napas untuk membantu menenangkan diri. Setelah itu, seseorang perlu mengamati kondisi di sekitarnya agar tetap sadar terhadap situasi yang sedang terjadi.

Langkah berikutnya adalah mengingat kembali pengetahuan maupun pesan mitigasi yang pernah diterima. Pengetahuan tersebut kemudian menjadi dasar untuk menentukan tindakan yang sesuai dengan kondisi bencana.

Liftiah menilai penerapan metode tersebut membutuhkan latihan. Kesiapsiagaan secara mental perlu dibangun sebelum bencana terjadi agar seseorang tidak mudah panik ketika menghadapi kondisi darurat yang sebenarnya.

“Untuk mendukung itu, mestinya juga ada latihan. Ibaratnya, kita siap siaga secara mental dan begitu ada bencana kita bisa tenang dan sadar lingkungan,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengalamannya ketika menjalani studi di Taiwan. Saat terjadi gempa, ia mendapat pengetahuan mengenai pentingnya membuka pintu sebagai salah satu langkah antisipasi apabila getaran gempa berdampak pada konstruksi bangunan dan membuat pintu sulit dibuka.

“Jadi sebelum pintu itu terkunci, harus kita buka dulu sambil kita menanti. Kalau kayak di Taiwan itu gempa kemudian melambat dan tidak ada gempa susulan, kita harus waspada kalau gempanya semakin kuat maka kita harus ambil tindakan keluar gedung,” ucapnya.

Menurut Liftiah, contoh tersebut menunjukkan pentingnya pengetahuan mitigasi sebelum seseorang menghadapi bencana. Dengan memahami langkah yang harus dilakukan, seseorang memiliki acuan untuk bertindak dan tidak hanya mengandalkan kepanikan ketika situasi darurat terjadi.

Selain kesiapan ketika bencana berlangsung, aspek psikologis juga perlu diperhatikan setelah bencana. Kekhawatiran terhadap kemungkinan terjadinya bencana susulan dapat membuat penyintas kembali merasa takut dan cemas.

Liftiah mengatakan dampak psikologis pascabencana sangat bergantung pada intensitas bencana yang terjadi. Semakin besar skala bencana, potensi kepanikan, ketakutan, hingga trauma yang dialami masyarakat juga dapat semakin besar.

“Itu kan menimbulkan efek yang besar juga, kepanikan yang besar dan ketakutan yang besar juga. Pasti juga dampaknya ada yang meninggal, menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan dalam kondisi skala yang besar bisa menimbulkan trauma atau syok yang mendalam,” ungkapnya.

Karena itu, kesiapsiagaan menghadapi bencana menurutnya tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan mengenai evakuasi atau penyelamatan diri. Kemampuan mengelola kepanikan dan menjaga kesadaran juga menjadi bagian penting agar masyarakat mampu mengambil tindakan secara tepat.

Metode AAIA diharapkan dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membangun kesiapsiagaan tersebut, dengan membiasakan masyarakat mengambil napas, mengamati kondisi sekitar, mengingat pesan mitigasi, kemudian mengambil tindakan sesuai situasi yang dihadapi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....