Teladan Rasulullah dalam Menyikapi Perbedaan, Relevan bagi Generasi Muda

  • 01 Sep 2026 04:43 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menyikapi perbedaan ,dinilai relevan diterapkan generasi muda di tengah masyarakat yang beragam. Sikap menghargai pandangan orang lain dan menjaga adab, dapat menjadi cara untuk mempertahankan kerukunan, termasuk di lingkungan kampus dan media sosial.

Mengenai hal tersebut, Ketua Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Universitas Negeri Semarang, Khoirul Anam menyebut ada beberapa hal yang bisa diteladani. Ia mencontohkan Nabi Muhammad SAW saat itu pernah hidup di masyarakat dengan berbagai kepercayaan, namun tidak memaksakan semua memiliki keyakinan yang sama.

“Yang beliau lakukan seperti apa, beliau membuat kesepakatan bersama namanya Piagam Madinah. Beliau merangkul semua kelompok supaya bisa hidup berdampingan secara adil, kalau kita tarik di kehidupan kampus saat ini situasinya hampir sama persis,” sebutnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 25 Agustus 2026.

Menurutnya, kampus sebagai miniatur masyarakat yang cukup heterogen dapat menjadi tempat penerapan teladan tersebut. Bentuk-bentuk sikap tidak memaksakan pandangan dan sejenisnya, bisa dilakukan untuk bisa menghargai pandangan dan keyakinan orang lain.

“Yang paling penting kita juga harus menghargai ruang orang lain, beda pendapat atau argumen itu boleh. Tapi tetep bisa menjaga kerukunan, dan pastinya persahabatan di tengah kampus ataupun di ruang lingkup lainnya,” ujar Anam.

Menjaga kerukunan terhadap sesama sesuai teladan Rasulullah, dapat dilakukan generasi muda dalam berbagai cara yang sederhana. Salah satunya menurut Anam bisa dimulai dengan menjaga adab, terutama ketikan di media sosial ataupun secara lisan.

“Kita juga harus peka terhadap lingkungan terdekat, dalam hal ini kalau misal ada teman atau dosen atau ruang lingkup kampus yang butuh bantuan harus kita bantu. Itu juga terbukti Rasulullah peduli sesama sahabatnya atau tetangganya, sama halnya dengan sifat Rasulullah kita juga harus tanamkan dalam lingkup sehari-hari,” katanya.

Hal ini juga termasuk dalam menyikapi perbedaan, dimana Anam mencontohkan ketika Rasulullah berhadapan dengan orang yang menentang dakwahnya. Respon yang ditunjukkan adalah tidak membalas dengan cacian, sehingga bisa meredam terjadinya konflik antar umat.

“Bahkan Rasulullah itu malah lembut gitu ya kepada yang mencaci, itu prinsip Rasulullah saat itu. Ada dua fondasi yang perlu kita tanamkan, kita harus membedakan antara substansi kebenaran dan metode penyampaian,” ucapnya.

Anam menyebut anak muda masih terjebak pada asumsi keliru, bahwa kebenaran agama dibela dengan cara yang kurang baik seperti kata-kata yang tidak baik. Padahal menurutnya, Rasulullah selalu menggunakan metode yang baik dalam berdakwah kepada umat di zamannya.

“Kadangkala algoritma media sosial dirancang secara sistematis untuk memancing amarah, karena mendatangkan interaksi yang lebih tinggi biasanya. Rasulullah adalah sosok yang tenang dan tidak reaktif, sebagai anak muda sebelum kita mengetik ya kita harus berpikir jangka panjang dampaknya,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....