Medsos Jadi Ruang Belajar Agama, GUSDURian Ingatkan Pentingnya Saring Informasi

  • 18 Agt 2026 09:48 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Yazid Nur Iman Yahya dari Penggerak GUSDURian Semarang mendorong masyarakat untuk lebih kritis dalam menyaring konten keagamaan yang beredar di media sosial.
  • Kemudahan akses informasi agama di media sosial harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk memilah dan membedakan konten yang dapat dijadikan rujukan dan yang perlu disikapi secara kritis.
  • Media sosial dapat menjadi ruang belajar agama, namun jumlah konten yang banyak memerlukan keterampilan khusus untuk mengevaluasi kredibilitas dan keandalan informasi keagamaan.

RRI.CO.ID, Semarang – Penggerak GUSDURian Semarang, Yazid Nur Iman Yahya mendorong masyarakat lebih kritis dalam menyaring konten keagamaan yang beredar di media sosial. Menurutnya, kemudahan mengakses informasi agama di dunia maya perlu diimbangi kemampuan memilah agar masyarakat tidak menerima informasi secara mentah.

Yazid mengatakan media sosial memang dapat menjadi salah satu ruang untuk mempelajari agama. Namun, banyaknya konten yang tersedia membuat masyarakat perlu memiliki kemampuan untuk membedakan informasi yang dapat dijadikan rujukan dan yang perlu disikapi secara kritis.

“Kita sebenarnya sebagai individu kita perlu punya guru spiritual yang tidak berasal dari dunia maya, itu poin pentingnya. Nanti dari situ kita bisa memfilter, mana yang baik dan mana yang buruk karena saking banyaknya pilihan itu malah nanti ada yang nggak masuk,” kata Yazid dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 11 Agustus 2026.

Menurutnya, keberadaan guru spiritual yang memiliki pemahaman keagamaan dapat membantu seseorang memperoleh konteks yang lebih tepat ketika menemukan informasi agama di media sosial. Yazid juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap suatu konten.

“Mungkin yang pertama, kita nggak apa-apa perlu melihat dulu isi konten tersebut. Jangan langsung men-judge atau langsung berasumsi, itu poin pentingnya sehingga kita bisa menyimpulkan ini sebagai tontonan atau bisa diambil nilainya,” ujarnya.

Selain kemampuan menyaring informasi, Yazid menilai literasi keagamaan juga berkaitan erat dengan kemampuan memahami perbedaan. Menurutnya, perbedaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan masyarakat.

Ia menjelaskan, nilai ketakwaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan seseorang dengan Tuhan, tetapi juga tercermin dalam kesadaran moral dan sikap terhadap sesama. “Nilai utama dari taqwa sendiri adalah menjaga dari hal buruk, ketika ada hal yang buruk seperti menyakiti orang lain artinya kita belum bisa taqwa,” kata Yazid.

Sebagai penggerak GUSDURian, Yazid juga mengaitkan pentingnya menyikapi perbedaan dengan nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur. Menurutnya, keberagaman merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia.

Ia mencontohkan sikap Gus Dur dalam memperjuangkan pengakuan terhadap keberagaman masyarakat, termasuk ketika menetapkan Imlek sebagai hari besar bagi masyarakat Tionghoa. “Bahwa Indonesia itu ada karena keberagaman, kita nggak bisa Indonesia itu hanya Islam atau Kristen sehingga itu hal yang paling dasar dan wajar,” katanya.

Menurut Yazid, nilai tersebut dapat diterapkan ketika masyarakat menemukan perbedaan di ruang digital maupun kehidupan sehari-hari. “Ketika menemukan perbedaan, kita jangan langsung men-judge dan dasarnya sesama manusia jangan saling menyakiti,” ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....