Perkuat Sikap Toleran, Literasi Keagamaan Jadi Aspek Penting
- 18 Agt 2026 07:37 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Literasi keagamaan dinilai menjadi aspek penting, untuk membantu masyarakat memahami perbedaan dan membangun sikap toleran. Pemahaman agama yang baik juga perlu diimbangi interaksi dengan kelompok berbeda, agar tidak muncul sikap saling mengancam yang berpengaruh pada kehidupan antar umat beragama.
Menurut Penggerak GUSDURian Semarang, Yazid Nur Iman Yahya, literasi keagamaan adalah hal yang penting dalam kehidupan beragama. Sebab, literasi keagamaan merujuk pada orang yang sudah paham dan mempraktekkan ajaran agama yang dianutnya.
“Kalau kita nggak bisa memahami perbedaan, yang terjadi adalah perpecahan. Misal kita lihat bagaimana banyak sekali orang yang berbeda agama di masyarakat, terus mau mendirikan rumah ibadah kesulitan karena tidak didasarkan atas adanya suatu perbedaan,” ucapnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 11 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, hal tersebut berpengaruh terhadap kehidupan sosial keagamaan, apalagi secara garis besar setiap agama mengajarkan membangun hubungan baik terhadap sesama manusia. Yazid menjelaskan dengan teori sosial identitas, bahwa ada kecenderungan manusia berkelompok dalam in group dan out group.
“Untuk melepaskan belenggu itu, sebenarnya harus terjadi interaksi antar agama. Nanti efeknya bahwa kita akan terbuka, bahwa ada kelompok atau orang yang berbeda dengan apa yang kita pahami,” ucapnya.
Interaksi yang membuat masyarakat bisa terbuka dan memahami, maka akan memunculkan sikap toleran yang positif di masyarakat. Merujuk pada ajaran Gus Dur, Yazid menyebut, semakin tinggi ilmu seseorang maka akan semakin toleran yang bisa ditingkatkan lewat interaksi dan literasi keagamaan.
“Kadang ketika kita merasa langsung ada yang berbeda dan mengancam kita, itu sebenarnya indikasi bahwa kita belum terbuka dan belum bisa menerima orang lain. Ketika adanya interaksi, diharapkan seharusnya kita bertanya kenapa dia seperti itu dan bisa jadi itu jembatan untuk kita terbuka akan hal baru dan pemikiran baru untuk kita,” kata Yazid.
Yazid menjelaskan bahwa interaksi dan literasi keagamaan harus berjalan seimbang, sehingga tidak bersikap defensif terhadap mereka yang berbeda keyakinan. Menurutnya jika seseorang sudah belajar agama dengan baik, maka dia harus terbuka akan perbedaan.
“Tentu sebenarnya literasi keagamaan yang utama adalah kita harus yakin dengan apa yang kita percaya, kemudian atas dasar itu kita bisa memilah milah. Di dunia maya sendiri banyak konten-konten ya, dan ketika mereka upload atau sharing nggak tahu dasarnya apa dan itu jadi satu buah pisau bermata dua,” kata Yazid.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....