Kota Pekalongan Bidik Sentra Benih Biosalin, Lahan Eks Rob Mulai Produktif

  • 16 Agt 2026 06:47 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • Produksi benih di Pekalongan akan terus didampingi Balai Besar Sertifikasi Benih Jawa Tengah agar memenuhi standar sertifikasi.
  • Dari hampir 100 hektare lahan yang disiapkan, sekitar 56 hektare kini telah ditanami padi Biosalin.

RRI.CO.ID, Pekalongan — Upaya mengubah lahan eks rob yang selama ini menjadi persoalan menjadi sumber produksi pangan. Pemerintah Kota Pekalongan mulai membidik posisi strategis sebagai pusat pembenihan padi Biosalin di kawasan Pantura Jawa Tengah.

Rencana tersebut mengemuka setelah pengembangan padi Biosalin di Klidungan, Kelurahan Degayu, Kecamatan Pekalongan Utara menunjukkan progres. Dari hampir 100 hektare lahan yang disiapkan, sekitar 56 hektare kini telah ditanami padi Biosalin.

Wali Kota Pekalongan H.A. Afzan Arslan Djunaid mengatakan, keberhasilan penanganan banjir dan rob membuka ruang baru bagi pengembangan pertanian. Ia menilai kondisi ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Dengan penanganan banjir dan rob, kita sudah siap lahan hampir 100 hektare dan sekarang sudah ditanam 56 hektare,” ujar Aaf, Sabtu 15 Agustus 2026. Namun, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar menyediakan lahan, melainkan memastikan pasokan benih.

Menurut dia, saat ini pembenihan Biosalin masih banyak bertumpu pada produksi dari Bogor, sehingga kebutuhan benih untuk kawasan Pantura belum bisa dipenuhi secara cepat dari daerah sendiri. Karena itu, Pemkot Pekalongan mendorong pembangunan pusat pembenihan Biosalin.

Selain mempercepat ketersediaan benih, pusat tersebut diharapkan menjadi mesin penggerak perluasan tanam di lahan-lahan eks rob. Di sisi lain, Kepala KPw BI Tegal, Bimala, mengapresiasi rencana tersebut.

Menurutnya, pengembangan kemampuan produksi benih membutuhkan proses panjang, tetapi peluangnya terbuka karena mendapat dukungan berbagai pihak. Dukungan itu salah satunya datang melalui wakaf produktif yang dihimpun MES Pekalongan.

Dalam waktu kurang dari sepekan setelah Festival Bubur Suro, dana wakaf yang terkumpul mencapai Rp74 juta. Dana ini untuk mendukung pembenihan padi Biosalin.

Kepala Dinperpa Kota Pekalongan Lili Sulistyawati mengatakan, keterbatasan pasokan benih menjadi salah satu kendala utama pengembangan Biosalin. Produksi benih saat ini masih terkonsentrasi di Bogor dan Banten, sementara kebutuhan di sepanjang Pantura Jawa Tengah cukup besar.

“Sudah didampingi dan sudah bisa menghasilkan benih padi Biosalin. Kemarin lebih dari 5 ton untuk benih, separuh untuk benih dan separuh nanti untuk beras,” kata Lili.

Produksi benih di Pekalongan akan terus didampingi Balai Besar Sertifikasi Benih Jawa Tengah agar memenuhi standar sertifikasi. Jika kapasitas produksi mampu ditingkatkan, benih tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi berpotensi didistribusikan ke berbagai wilayah Pantura.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....