AI Bisa Jadi Teman Belajar Agama, Bukan Pengganti Guru atau Ustaz
- 04 Agt 2026 08:46 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang - Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari informasi keagamaan, dinilai menjadi fenomena yang wajar di kalangan generasi muda. Namun, AI disebut hanya layak digunakan sebagai alat bantu belajar dan tidak dapat menggantikan peran guru atau ustadz dalam memahami maupun menetapkan ajaran agama.
Menurut Rayhan Fakhri Kurniawan, mahasiswa Psikologi Universitas Negeri Semarang(Unnes), hal tersebut merupakan sesuatu yang sebenarnya wajar. Menurutnya, ini menjadi opsi yang paling mudah diakses, namun tetap harus memiliki garis batasan yang jelas dalam penggunaannya terutama dalam membahas ilmu atau hukum agama.
“Nggak bisa dong kita menentukan suatu hukum yang kita tidak tahu terus tanya AI, karena AI ini kan hanya menampung informasi yang pernah ter-publish di internet. Kita perlu nyari batasannya apa, apakah hanya sekadar menanyakan sumber referensi untuk belajar atau garis besar suatu hukum itu sendiri baik dari syariat atau fikih,” ujarnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 28 Juli 2026.
AI dipandang Rayhan sebagai bagian dari hidup banyak orang saat ini, termasuk bagi generasi muda sehingga memiliki kecenderungan mencari jawaban lewat AI. Ia menduga adanya jarak fisik atau keterikatan hingga kekhawatiran dihakimi, menjadi alasan memilih menanyakan tetang ilmu agama ke AI.
“Apalagi mungkin ketika permasalahannya agak sedikit sensitif, atau mungkin menyangkut personalnya dia ngerasa bingung. Dia merasa curhat ke ustaz untuk persoalannya itu sulit, apalagi dia merasa belum punya kenalan ustaz atau ustaz yang dia percaya sulit dijangkau,” ucap Rayhan.
Rayhan berpendapat, AI bisa menjadi cara bagi generasi muda belajar mengenai agama, meskipun ia mengingatkan tetap ada garis batas yang harus dipahami. Ia mencontohkan jika seseorang ingin belajar mengenai tauhid, maka tidak bisa serta merta melihat dari AI namun juga mencari sumber lain yang kredibel.
“Kita cari di AI buku apa yang bisa jadi referensi, kemudian mungkin kita bisa mencari kenalan yang punya ustadz yang bisa ditanya-tanya. Karena ilmu tersebut butuh pemandu, bagaimana kita harus belajar dan memahami tulisan ulama terdahulu sehingga AI bisa memberi masukan dan garis besar saat ingin mempelajari,” ujarnya.
Rayhan juga sepakat, peran guru atau ustadz dalam mempelajari agama, tidak bisa digantikan dengan AI. Menurutnya dalam proses belajar, peran guru disebutnya sebagaimana mereka menyampaikan ilmu dan bagaimana seseorang menghormati mereka.
“Bagaimana hubungan kita dengan guru itu, adalah cara kita untuk menggali ilmu yang lebih banyak lagi. Jadi AI hanya bisa digunakan sebagai alat bantu, ibaratnya kalau kita mau menulis sebuah buku maka AI akan menulis daftar isinya dan isinya akan kita tanyakan ke guru kita lewat cara belajar itu tadi,” ujar Rayhan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....