Fenomena Echo Chamber Jadi Tantangan Moderasi Beragama di Era Digital

  • 27 Jul 2026 11:35 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Fenomena echo chamber di media sosial, dinilai menjadi salah satu tantangan dalam memperkuat moderasi beragama. Paparan informasi yang cenderung sejalan dengan keyakinan pribadi berpotensi mempersempit sudut pandang, sehingga mengurangi keterbukaan terhadap perbedaan dan memperkuat sikap intoleran.

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro, A’isy Nasywa mengatakan, kondisi tersebut membuat orang hanya mendengar apa yang serupa dengan yang diyakini. Hal ini memiliki dampak bahwa apa yang diyakini menjadi kebenaran mutlak, tanpa melihat dari perspektif lain.

“Kita malah bisa mengklaim pandangan kita sebagai kebenaran mutlak, padahal di luar sana masih banyak perspektif lain. Namun kita abaikan begitu saja, alhasil memperkuat bias dan menolak pandangan yang berbeda,” jelasnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 21 Juli 2026.

Jika dilihat dari perspektif komunikasi, ia menyebut bahwa media sosial menjadi salah satu contoh ruang publik yang berpotensi memunculkan echo chamber. Algoritma media sosial yang cenderung menampilkan konten yang sesuai minat, sehingga memperkuat pandangan yang diyakini oleh seseorang.

“Kalau di ilmu komunikasi itu ada confirmation bias, secara alami manusia akan lebih nyaman terhadap informasi yang membenarkan keyakinan kita dan menolak hal yang bertentangan. Jadi sebenarnya, hal tersebut itu juga dipengaruhi algoritma yang ada di media sosial,” ucap A’isy.

A’isy menjelaskan cara kerja algoritma dipengaruhi aktivitas seseorang di media sosial, baik apa yang dilihat atau direspon sehingga terus menerus dihadirkan. Ketika seseorang terpapar informasi dari media sosial dan berinteraksi, algoritma memunculkannya terus menerus sehingga berpotensi membentuk echo chamber.

“Algoritma media sosial bisa ngebaca jejak digital kita, ketika kita misalnya browsing sesuatu atau nonton video reels. Terus berhenti buat share atau nge-like atau sekedar komen, algoritma bisa membaca itu dan menangkap itu sebagai sinyal bahwasannya kita tertarik pada konten itu,” katanya.

Ada beberapa tanda yang muncul ketika seseorang terjebak dalam echo chamber, misalnya gejolak emosi yang muncul saat melihat konten tanpa melihat argumentasi. Sikap merasa paling benar hingga tidak bervariasinya konten yang muncul, juga dapat menjadi tanda bahwa seseorang terjebak hal tersebut.

“Apalagi kan era sekarang ini namanya era post-truth, di mana orang lebih percaya keyakinannya sendiri daripada fakta yang udah pasti benar. Kan gawat ya kalau kayak gitu, kita jadi nggak mau kritis lagi,” ungkap A’isy.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....