Batang Miliki 12 Potensi Bencana, 5 Jadi Prioritas Penanganan BPBD
- 23 Jul 2026 13:45 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Batang – Kabupaten Batang memiliki 12 potensi bencana berdasarkan data kebencanaan. Namun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang memprioritaskan penanganan terhadap lima ancaman yang dinilai paling berisiko.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang, Wawan Nurdiansyah lima ancaman bencana tersebut menjadi fokus mitigasi di daerah tersebut. “Kami kerucutkan dengan potensi tinggi antara lain banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, gempa, dan kekeringan," kata Wawan dalam Dialog Semarang Menyapa di Pro 1 RRI Semarang, Rabu, 22 Juli 2026.
Ia mengatakan, pemetaan tersebut menjadi dasar penyusunan strategi penanggulangan bencana sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat. Menurutnya, setiap ancaman memiliki karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan langkah mitigasi yang disesuaikan dengan kondisi wilayah.
Ia menjelaskan, wilayah Batang bagian utara masih didominasi ancaman banjir yang terjadi hampir setiap tahun. Selain dipicu banjir rob, kawasan tersebut juga kerap terdampak kiriman air dari wilayah selatan saat curah hujan tinggi.
Sementara itu, wilayah selatan yang didominasi kawasan perbukitan memiliki tingkat kerawanan tanah longsor yang cukup tinggi. Kondisi geografis tersebut membuat masyarakat di kawasan rawan perlu memiliki pemahaman yang baik terhadap potensi bencana di lingkungan tempat tinggalnya.
Menurut Wawan, idealnya masyarakat yang tinggal di kawasan berisiko tinggi direlokasi ke tempat yang lebih aman. Namun, keterbatasan anggaran dan berbagai faktor lain membuat langkah tersebut tidak selalu dapat dilakukan.
"Idealnya memang masyarakat dijauhkan dari wilayah yang memiliki potensi bencana tinggi. Akan tetapi ketika relokasi tidak memungkinkan, minimal kita memberikan pemahaman agar masyarakat bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan potensi bencana yang ada," ujarnya.
Oleh karena itu, BPBD Kabupaten Batang terus mendorong masyarakat mengenali tanda-tanda awal bencana dan memahami langkah penyelamatan yang tepat. Dengan kesiapsiagaan tersebut, risiko korban jiwa maupun kerugian akibat bencana diharapkan dapat ditekan semaksimal mungkin.
Selain melakukan edukasi, BPBD juga mengembangkan Desa Tangguh Bencana (Destana) sebagai garda terdepan penanganan bencana di tingkat desa. Keberadaan relawan di desa diharapkan mampu melakukan penanganan awal sebelum bantuan dari pemerintah tiba.
Wawan menegaskan, setiap tempat memiliki potensi bencana yang berbeda. “Karena itu masyarakat harus mengenali ancamannya sejak dini agar dapat mengambil langkah yang tepat untuk mengurangi risiko ketika bencana terjadi," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....