Bangun Budaya Sadar Bencana, BPBD Kabupaten Semarang Kembangkan Inovasi Sadewa

  • 23 Jul 2026 06:10 WIB
  •  Semarang
Poin Utama
  • BPBD Kabupaten Semarang mengembangkan inovasi Sadewa (Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana) untuk membangun budaya sadar bencana hingga tingkat desa dengan menggabungkan pendekatan pentahelix dan digitalisasi.
  • Kabupaten Semarang memiliki karakteristik wilayah yang beragam dengan potensi bencana tinggi meliputi longsor, banjir, kekeringan, angin kencang, dan kebakaran hutan yang memerlukan kesiapsiagaan masyarakat.
  • Program Sadewa dirancang untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali risiko bencana dan melakukan langkah mitigasi sejak dini sebagai upaya preventif.

RRI.CO.ID, Semarang – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Semarang mengembangkan inovasi Sadewa atau Strategi Deteksi, Edukasi, dan Waspada Bencana sebagai upaya membangun budaya sadar bencana hingga ke tingkat desa. Program tersebut menggabungkan pendekatan pentahelix dan digitalisasi untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana.

Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Semarang, Alexander Gunawan Tribiantoro, mengatakan Kabupaten Semarang memiliki karakteristik wilayah yang beragam, mulai dari pegunungan, perbukitan, sungai, hingga kawasan rawan longsor, banjir, kekeringan, angin kencang, dan kebakaran hutan. Karena itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan mengenali risiko dan melakukan langkah mitigasi sejak dini.

Menurut Alex, masyarakat tidak lagi boleh diposisikan hanya sebagai objek ketika bencana terjadi. Sebaliknya, warga harus menjadi subjek yang mampu mengenali ancaman, memahami jalur evakuasi, hingga melakukan penyelamatan secara mandiri sebelum bantuan datang.

"Masyarakat tidak boleh hanya menjadi objek saat terjadi bencana. Akan tetapi, harus menjadi subjek yang mampu mengenali potensi ancaman, melakukan tindakan pencegahan, memahami jalur evakuasi, serta mampu melakukan penyelamatan secara mandiri sebelum bantuan datang," ujarnya dalam Dialog Semarang Menyapa Pro 1 RRI Semarang, Rabu, 22 Juli 2026.

Ia menjelaskan, inovasi Sadewa dibangun melalui penguatan kelembagaan Desa Tangguh Bencana (Destana), edukasi yang berkelanjutan, sistem deteksi dini berbasis digital, serta kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, komunitas, hingga relawan. Pendekatan tersebut diharapkan menjadikan kesiapsiagaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Implementasi Sadewa juga menunjukkan hasil yang signifikan. "Dengan strategi kolaborasi Sadewa yang melibatkan dunia pendidikan, dunia usaha, stakeholder, relawan, dan masyarakat, sampai tahun 2026 kita sudah bisa membentuk total 116 Desa Tangguh Bencana," kata Alex.

Selain membentuk kelembagaan, BPBD juga mendampingi setiap desa menyusun dokumen rencana penanggulangan bencana. Dokumen tersebut memuat jalur evakuasi, sistem peringatan dini, pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB), serta pelatihan bagi relawan agar mampu melakukan penanganan awal secara mandiri.

Alex menegaskan, tujuan utama Sadewa bukan sekadar menambah jumlah Desa Tangguh Bencana, melainkan membangun masyarakat yang benar-benar siap menghadapi berbagai ancaman bencana. "Bencana memang tidak dapat kita cegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat kita kurangi apabila seluruh masyarakat memiliki pengetahuan, kepedulian, kesiapsiagaan, dan semangat gotong royong," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....