Hari Kepercayaan Ajak Generasi Muda Hargai Keberagaman Keyakinan

  • 21 Jul 2026 12:13 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Penetapan 13 Juli sebagai Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dinilai memiliki makna lebih dari sekadar peringatan tahunan. Momentum tersebut mengajak generasi muda memahami keberagaman keyakinan dan menghormati hak setiap warga negara.

Staf Kementerian Keagamaan BEM KM Universitas Negeri Semarang(Unnes) 2026, NG. Gita Ayu Cahyani menjelaskan, ada banyak hal yang perlu dipahami generasi muda terkait peringatan ini. Selain mengenalkan sistem kepercayaan yang telah diwariskan secara turun-temurun, menurutnya generasi muda juga perlu memahami bahwa perbedaan merupakan kekayaan bukan ancaman.

“Adanya peringatan Hari Kepercayaan Terhadap Tuhan YME bukan sekadar seremoni atau ada di kalender doang. Akan tetapi, merupakan pengingat bahwa hak untuk meyakini sesuatu yang memang ada adalah hak asasi yang paling mendasar bagi setiap manusia,” jelas Anggi dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Selasa, 14 Juli 2026.

Menurut Anggi, peringatan tersebut relevan karena sejalan dengan nilai sila pertama Pancasila yang menghormati keberagaman keyakinan masyarakat Indonesia. Ia menilai peringatan tersebut tetap relevan, sebagai pengingat pentingnya menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan sosial saat ini.

“Kalau kita tahu sendiri kita melawan penjajah lewat persatuan, kali ini kita tanpa sadari kita juga dijajah dan menurut aku ini relevan. Secara tidak langsung memang memberitahu kepada orang, kalau Indonesia tuh punya kepercayaan yang lebih banyak lagi dari yang kita kira,” ucap Anggi.

Para penghayat kepercayaan yang hidup di masyarakat, keberadaannya perlu juga dihormati tanpa melakukan tindakan dan stigma negatif. Anggi menyebut salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengetahui secara mendasar kepercayaan mereka, sebagai cara untuk menghilangkan prasangka di masyarakat.

“Ketika kita belajar sesuatu yang baru, itu sebenarnya adalah cara kita menghargai sesuatu tapi kita cukup tahu secara mendasar. Terus menghargai keputusan dia, kayak nggak usah terlalu banyak komentar selagi itu tidak merugikan diri kita sendiri,” ujarnya.

Anggi berpendapat sudah ada sebagian generasi muda yang memahami adanya penghayat kepercayaan, sehingga mereka memahami ada masyarakat menganut kepercayaan tertentu. Namun masih ada sebagian yang belum memahami hal tersebut, sehingga masih sering terjadi kebingungan atau miskonsepsi.

“Aku biasanya nyeritain bahwasannya di Semarang itu ada komunitas penghayat, dan mereka kayak agak kurang percaya. Akhirnya aku menceritakan kalau memang ada, cara ibadahnya mereka seperti ini dan perlahan-lahan mereka tahu,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....