Sikap Saling Menghormati Jadi Kunci Jaga Harmonisasi di Kampus
- 07 Jul 2026 08:33 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Sebagai organisasi mahasiswa keagamaan, Unit Kegiatan Kerohanian Islam Universitas Negeri Semarang(Unnes) terus menguatkan budaya toleransi melalui kajian terbuka dan berbagai kegiatan kemahasiswaan. Sikap saling menghormati mahasiswa lintas agama, dinilai menjadi kunci menjaga keharmonisan antarumat beragama di kampus.
Biro Manajemen Internal Organisasi UKKI Unnes, Yusuf Abdurrahman Faiz menyebut, salah satu yang dilakukan adalah dengan mengadakan kajian secara terbuka. Pada materinya sendiri, diselipkan nilai-nilai tentang toleransi dan menghargai keberagaman untuk disampaikan pada mahasiswa.
“Nah, dalam kajian-kajian ini, pasti kita menerapkan nilai-nilai kerukunan dan nilai-nilai toleransi. Bahkan ada beberapa kegiatan yang kita menekankan temanya toleransi, jadi ada dua nilai yang selalu kita pegang yaitu hablum minallah dan hablum minannas,” ucap Yusuf dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 30 Juni 2026.
Hal lain yang coba dilakukan Yusuf dan teman-temannya, adalah menjadikan UKKI sebagai organisasi mahasiswa keagamaan yang inklusif. Dengan demikian, keberadaan organisasi mahasiswa keagamaan, bisa dirasakan oleh seluruh mahasiswa yang ada lewat aksi nyata yang mereka lakukan.
“Jadi kita juga mampu melakukan pendakwahan di media sosial, baik itu kata-kata mutiara atau ajaran-ajaran pendidikan dan lain sebagainya. Tahun ini kita menghadirkan diri kami sebagai mediator, wadah belajar dan saling bertukar gagasan bagi seluruh mahasiswa,” ucapnya.
Meskipun kondisi toleransi di kampus berjalan harmonis, Yusuf menyebut setiap agama memiliki nilai masing-masing yang perlu dijaga keteguhannya. Batasan tersebut yang menurutnya harus dijaga sebaik mungkin, dan bisa menerapkan saling menghormati satu sama lain.
“Apabila ada masalah terkait lintas agama, pastinya kita akan membuka dialog terbuka dan secara berkepala dingin. Untuk menciptakan jalan tengah, dari permasalahan yang ada,” kata Yusuf.
Yusuf berpendapat, untuk menunjukkan sikap saling menghormati lintas agama, yang paling bisa dilihat adalah dengan menjaga sikap. Ketika ada orang yang sedang menjalankan kewajibannya, maka menjaga sikap dan lisan dalam menanggapi hal tersebut menjadi cara menghargai dan memberi ruang dengan tepat.
“Ketika ada agama lain menjalankan ibadahnya atau kegiatan keagamaannya, kita harus saling menghargai dan memberi ruang serta kesempatan. Menurutku, itu menjadi pilar utama bagi civitas akademika, untuk mempertahankan nilai harmonisasi dan toleransi di antara kita,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....