Kolaborasi Jaga Bumi, Isu Lingkungan Jadi Ruang Perjumpaan Lintas Agama

  • 08 Sep 2026 11:30 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang - Persoalan lingkungan dinilai dapat menjadi ruang perjumpaan, bagi masyarakat dari berbagai latar belakang agama. Kesamaan kepentingan untuk menjaga alam dan menghadapi dampak bencana, dapat mendorong kolaborasi tanpa harus menyamakan keyakinan.

Kepala Departemen Ekonomi Kreatif Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) Universitas Negeri Semarang, Irsyad Zidan Arrifqi menjelaskan, dalam aspek ekoteologi, hal tersebut cukup berkaitan. Adanya bencana seperti banjir hingga kebakaran hutan dan lahan, tidak bisa dilepaskan dari perbuatan manusia secara moral.

“Kita yang sehari-hari harusnya menjaga hutan dan kebersihan sungai, tapi justru malah kita rusak. Kalau kerusakan yang terparah oleh tindakan manusia seperti membakar kemudian menghabisi hutan untuk dibangun, itu adalah permasalahan moralnya,” katanya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 1 September 2026.

Padahal menurutnya, harusnya ada kepatuhan manusia sendiri terhadap lingkungan sekalipun itu dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Irsyad menyebut juga dalam perspektif ekonomi Islam, hal tersebut juga berpengaruh terhadap kemaslahatan dan manfaatnya yang tidak sampai pada banyak orang.

“Kita sama alam sama-sama ciptaannya Tuhan atau Allah, seharusnya kalau kita sama-sama ciptaan harusnya kita saling menjaga. Ada satu konsep dalam Islam yaitu ‘la dharara wa la dhirar’, jangan melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri atau orang lain,” jelas Irsyad.

Seluruh agama yang ada di muka bumi diyakini Irsyad mengajarkan konsep timbal balik, sehingga manusia berperan penting menjaga keseimbangan alam. Hal ini dipandang Irsyad bisa menjadi titik temu bagi umat dari berbagai agama, untuk menyadari perannya sebagai penjaga lingkungan yang diciptakan Tuhan.

“Ketika hutan terbakar pun asapnya nggak akan memilih berdasarkan agama, justru disinilah lingkungan bisa menjadi ruang perjumpaan yang sangat baik. Kita mungkin berbeda secara ritual atau teologi, tapi kita bisa bertemu dalam satu kesadaran bahwa kita tinggal di lingkungan yang sama dan sama-sama ingin mewariskan bumi yang baik,” ujarnya.

Kesadaran itu yang menurut Irsyad bisa diimplementasikan, lewat berbagai perilaku sederhana untuk menjaga lingkungan bersama-sama. Baik itu dalam bentuk aksi nyata seperti bersih lingkungan bersama, hingga melakukan edukasi terkait lingkungan dan donasi bagi korban bencana.

“Itu bisa dijadikan kolaborasi, yang nantinya bisa menghasilkan sesuatu yang besar. Jadi hari ini kita bisa bersama-sama dan mulai bertanya, setelah ini kita bisa melakukan apa untuk bumi yang lebih baik,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....