Anak Muda Lebih Mudah Paham Mitigasi Bencana Lewat Cara Santai

  • 10 Jun 2026 09:07 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Bencana alam yang tidak mengenal waktu dan tempat, tentu membuat siapapun harus memahami mitigasi bencana, termasuk generasi muda. Pembahasan dengan cara yang santai dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, bisa menjadi cara edukasi kebencanaan yang tepat bagi generasi muda agar lebih waspada.

Menurut Wiradanu Arsalan dari Ikatan Mahasiswa Perencanaan Indonesia(IMPI) Jateng-DIY, isu kebencanaan menjadi penting di generasi muda saat ini. Namun, selama ini, ia menyoroti bagaimana bahasa dan metode yang digunakan saat ini masih belum bisa menyentuh anak muda dengan maksimal.

“Beberapa yang saya temui dari pemerintah atau dinas terkait, ketika membahas bencana mereka menggunakan bahasa yang kurang familiar untuk anak muda. Anak muda kurang memahami mitigasi bencananya, kemudian kita harus mengubah metode ini menggunakan metode yang lebih santai,” ujarnya dalam program SPADA PRO 2 Semarang, Rabu, 3 Juni 2026.

Menurut Alan, sapaan akrabnya, bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu dan tidak mengenal lokasi, menjadi alasan utama generasi muda lebih peka pada isu kebencanaan. Ia menyebut Semarang memiliki sejumlah bencana seperti tanah longsor, banjir atau rob, hingga penurunan muka tanah yang harus menjadi perhatian.

“Kalau kita tidak menyelesaikan hal tersebut, tentunya di beberapa tahun ke depan yang kehilangan hak-haknya adalah anak-anak kita. Kita mempertahankan hal tersebut dengan cara mitigasi bencana, lalu edukasi kepada anak muda sehingga mereka terbekali ilmu untuk mitigasi bencana,” jelasnya.

Sementara, bagi Nadya Wana Putri yang tergabung dalam Relawan Gesit, sudut pandang pembahasan yang ada terkadang menimbulkan kekhawatiran saat membahas bencana. Menurutnya, membicarakan kebencanaan jika semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari maka akan lebih memudahkan untuk diterima.

“Semakin dekat pembahasannya dengan kehidupan sehari-hari, mungkin akan lebih mudah untuk dipahami daripada kalau langsung teori yang berat. Kita bisa mulai dari hal yang sederhana, misalnya nanti kalau di daerah aku ada gempa, aku harus gimana ya,” ungkapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....