Media Sosial Bisa Jadi Ruang Intoleransi, Anak Muda Rentan Terpapar

  • 19 Mei 2026 10:29 WIB
  •  Semarang

RRI.CO.ID, Semarang – Berkembangnya media sosial juga menjadi pintu masuk perilaku intoleransi, yang dapat terjadi di ruang digital dan terpapar ke generasi muda. Oleh karenanya memahami sudut pandang dan menghentikan arus informasi negatif, dapat menjadi cara untuk meredam tindakan tersebut di dunia digital.

Menurut psikolog klinis, Maya Arrizqina Fauzia, M. Psi, candaan atau perkataan yang merujuk pada stereotip tertentu juga memiliki dampak. Perasaan menjadi minoritas yang terkena tindak intoleransi, membuat emosi menjadi terpendam sehingga identitas diri dapat tergerus.

“Kita kan sendirian melawan itu, jadi semakin lama dampaknya menjadi stres yang kronis, terasing, malu terhadap dirinya sendiri. Bahkan, ada beberapa kasus yang mereka memilih tidak melakukan ibadah, karena mereka menjadi ragu sama keyakinan mereka sendiri dan banyak yang ke ruang konseling karena ini,” ungkapnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Selasa, 12 Mei 2026.

Sementara jika melihat ke media sosial, perilaku intoleransi sangat berpengaruh bagi generasi muda. Maya melihat kecenderungan anak muda yang aktif di media sosial dan dibanjiri paparan informasi negatif, membuat terjadinya kelelahan yang memicu masalah kesehatan mental.

“Kalau kita tidak mengolah informasi dengan baik, semua informasi dan paparan itu akan terus masuk dan otak akan kelelahan. Itu akan mempengaruhi kesehatan mental kita sebagai anak muda, terutama misalnya muncul isu keagamaan atau isu politik itu lumayan membuat kita overwhelmed dengan informasi yang muncul,” jelasnya.

Tindakan intoleransi masih kerap muncul di masyarakat, terutama bagi yang secara sosial masih tertinggal. Secara jangka panjangnya, hal ini disebut Maya dapat membuat kehidupan sosial menjadi dingin dan tidak aman.

“Bayangin kalau dalam hidup isinya sebuah ancaman dan perbedaan, perbedaan dianggap sebagai sesuatu yang mengganggu. Kita nggak akan hidup dengan tenang, kita nggak punya rasa aman lama-lama kita stres dan pengen pindah ke lingkungan yang lain dan berulang,” ucapnya.

Maya menyebut cara menghadapinya adalah meningkatkan kontak sosial yang positif, dengan lebih mencoba mendekati atau berbicara dengan orang yang berbeda. Melihat sudut pandang dari orang lain juga menjadi salah satu cara, untuk bisa memahami perasaan kelompok yang berbeda keyakinan.

“Batasi konsumsi informasi provokatif, kalau ada yang provokatif kita skip atau report aja. Memeriksa ulang asumsi pribadi pada kelompok tertentu, kalau itu bisa kita pecahkan dengan ngobrol langsung atau mencari tahu maka kita akan lebih positif pikirannya,” kata Maya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....