Tata Ruang Baik Tak Cukup, Mitigasi dan Perilaku Jadi Kunci Kurangi Risiko Bencana
- 15 Apr 2026 10:08 WIB
- Semarang
RRI.CO.ID, Semarang – Tata ruang yang baik tidak serta-merta menjamin suatu wilayah terbebas dari bencana. Mitigasi yang tepat serta perilaku masyarakat menjadi faktor kunci dalam mengurangi risiko bencana.
Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Universitas Semarang, Handaka Ridhlo Kurniawan, menilai masih terdapat kelemahan dalam aspek mitigasi bencana. Menurutnya, perencanaan tanpa diimbangi mitigasi yang tepat justru berpotensi menimbulkan risiko.
“Kita ngerencanain mau ngasih perumahan atau permukiman di daerah sini, tapi daerah itu sebenarnya fatal untuk daerah terbangun. Kalau data harusnya bisa dicari, ya seperti jenis tanah atau topografi, kalau menurutku lebih kalau dari pemerintah itu perizinannya,” ucapnya dalam program SPADA PRO 2 RRI Semarang, Rabu, 8 April 2026.
Ia menjelaskan, pemahaman terhadap karakteristik wilayah seperti jenis tanah dan topografi menjadi hal penting sebelum menentukan pembangunan. Selain itu, proses perizinan juga harus mempertimbangkan aspek kerawanan bencana.
Selain faktor perencanaan, perilaku masyarakat juga berpengaruh terhadap potensi bencana. Hal ini disampaikan oleh Mahasiswa PWK USM lainnya, Raka Shidqiya Mahib.
“Ambil contoh sekarang Semarang ‘kan punya sungai, itu kalau kesadaran masyarakat mengelola sungainya dengan baik masih buang sampah sembarangan. Pasti daerah tepian sungai kena dampaknya, yang harusnya aliran sungai itu lancar bisa sampai ke hilir tapi terhambat sama sampah masyarakat,” ucapnya.
Ia menambahkan, kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat menghambat aliran sungai dan memicu banjir. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Untuk menentukan tingkat kerawanan suatu wilayah, diperlukan analisis dan kajian yang komprehensif. Ridhlo menyebut metode analisis seperti overlay dan pembobotan menjadi dasar dalam mengidentifikasi potensi bencana.
“Misal ada analisis overlay dan pembobotan, untuk bencana sendiri kalau longsor ada pembobotan curah hujan, topografi, sama jenis tanah. Tiga faktor itu yang nentuin apakah itu bencana longsor itu berpotensi atau nggak, kalau misal banjir ada lagi dari topografi dan curah hujan,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, potensi bencana dapat dipetakan secara lebih akurat. Hasil kajian ini diharapkan menjadi dasar dalam pengambilan kebijakan pembangunan yang lebih aman dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....